Belu Merawat Iman, Alam, dan Harapan Lewat Pariwisata Rohani
ATAMBUA | BELUPPO.Com –
Di ujung timur Nusantara, di mana laut berdoa pada karang dan angin membawa bisik doa para peziarah, Kabupaten Belu,Nusa Tenggara Timur, perlahan menata dirinya sebagai ruang ziarah yang hidup. Bukan semata perjalanan wisata, melainkan perjumpaan iman, alam, dan penghidupan.
Patung Bunda Maria di Teluk Gurita Atapupu berdiri teduh menghadap samudra, seolah menjadi penjaga sunyi bagi Teluk Gurita dan Pantai Pasir Putih yang membentang bening. Di tempat-tempat inilah, Pemerintah Kabupaten Belu menaruh harapan: pariwisata rohani yang berakar pada spiritualitas, sekaligus menumbuhkan ekonomi rakyat.
Tahun 2026, destinasi-destinasi ini akan terus dibenahi dan dikembangkan secara berkelanjutan.
“Pariwisata bukan sekadar mendatangkan orang, tetapi menghidupkan manusia dan ruang hidupnya.”
Dari Ziarah Menuju Siklus Kehidupan
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Belu, Januaria Nona Alo, S.IP, menegaskan bahwa pembenahan destinasi unggulan seperti Patung Bunda Maria, Teluk Gurita, dan Pantai Pasir Putih Atapupu menjadi prioritas pemerintah daerah.
“Di tahun 2026, destinasi ini akan terus kami benahi. Selain itu, destinasi lain yang masih dirintis juga akan terus didorong agar bergeliat,” ujar Januaria kepada Belu Pos, Selasa (20/01/2026).
Ia menekankan pentingnya pelibatan masyarakat adat dan pengelola perorangan, agar pariwisata tidak terpusat pada negara semata, melainkan tumbuh dari akar komunitas.
“Kami mendorong pengelolaan oleh masyarakat adat dan pribadi agar wisata Belu mampu menarik wisatawan lokal, domestik, hingga mancanegara—baik perorangan maupun kelompok,” jelasnya.
Pariwisata Rohani: Doa yang Menjelma Pekerjaan
Pariwisata rohani di Belu tidak berhenti pada simbol iman, tetapi bergerak menjadi siklus ekonomi: warung kecil yang hidup, penginapan rakyat yang terisi, pemandu lokal yang bekerja, dan kerajinan tangan yang kembali bernilai.
Seperti tertulis dalam Kitab Yakobus 2:17:
“Iman, jika tidak disertai perbuatan, adalah mati.”
Di Belu, iman itu bergerak—menjadi perbuatan sosial, ekonomi, dan budaya.
“Ziarah yang sejati selalu meninggalkan jejak kebaikan bagi sesama.”
Festival sebagai Denyut Budaya
Sebagai penguat ekosistem wisata, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan juga akan secara rutin menggelar festival, mulai dari Gebyar Kemerdekaan tahunan hingga festival kolaboratif bersama Pemerintah Provinsi NTT dan berbagai lembaga.
Festival bukan sekadar perayaan, melainkan panggung identitas—tempat budaya Belu berbicara dengan dunia.
“Festival menjadi ruang perjumpaan budaya, iman, dan ekonomi kreatif masyarakat,” ungkap Januaria.
Tanggung Jawab Merawat yang Sakral
Namun, pariwisata rohani juga menuntut tanggung jawab moral. Alam bukan objek eksploitasi, dan iman bukan komoditas kosong. Setiap langkah pembangunan harus menjaga kesakralan, kebersihan, dan keberlanjutan.
Kitab Kejadian 2:15 mengingatkan:
“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”
Pariwisata Belu harus berjalan dalam semangat mengusahakan sekaligus memelihara.
Pelajaran bagi Publik
Dari Belu, kita belajar bahwa pariwisata tidak harus bising dan serakah. Ia bisa hening, bermakna, dan menumbuhkan. Ketika iman bertemu alam, dan pemerintah berjalan bersama rakyat, lahirlah pariwisata yang bukan hanya indah dipandang—tetapi adil untuk dijalani.
Di Atapupu, doa-doa tak hanya naik ke langit.
Ia turun ke tanah,
menjadi kehidupan.















