banner 728x250

Perempuan Perbatasan Bangkit: Dari Bete Lalenok, Ny. Tri Tito Karnavian Menyalakan Harapan Belu

ATAMBUA | BELUPOS.COM — Dari jantung perbatasan RI – RDTL, suara itu menggema pelan namun pasti—tentang perempuan, tentang keluarga, tentang masa depan bangsa. Di Gedung Wanita Bete Lalenok, Kamis (16/04/2026), Ketua Umum Tim Penggerak PKK Pusat, Ny. Tri Tito Karnavian, hadir di hari kedua kunjungannya di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur membawa pesan yang tak sekadar didengar, tetapi dirasakan oleh warga perbatasan.

Temu kader itu bukan sekadar seremoni. Ia menjadi ruang perjumpaan gagasan dan harapan, dengan dua agenda utama yang menyentuh akar kehidupan masyarakat: perlindungan perempuan dan anak dari kekerasan, serta pelatihan pembuatan minyak kemiri sebagai jalan penguatan ekonomi keluarga.

Di hadapan para kader PKK dan undangan, Ny. Tri Tito Karnavian menegaskan bahwa Belu bukan wilayah pinggiran, melainkan beranda depan Indonesia yang strategis dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

╔══════════════════════════════════════╗
║ “Belu itu istimewa karena berbatasan langsung ║
║ dengan Timor Leste. Saya hadir di sini untuk ║
║ menyemangati kader PKK agar bekerja keras ║
║ menyiapkan anak-anak kita menjadi SDM yang ║
║ hebat demi kelangsungan NKRI.” ║
║ ║
║ — Ny. Tri Tito Karnavian ║
╚══════════════════════════════════════╝

Di ruang itu, kata-kata menjadi energi. Para perempuan yang selama ini bekerja dalam diam, kini dipanggil untuk mengambil peran lebih besar—menjadi penjaga nilai, pelindung keluarga, sekaligus penggerak perubahan.

Isu kekerasan dalam rumah tangga menjadi sorotan utama. Ny. Tri Tito Karnavian menekankan bahwa kekerasan, baik fisik maupun verbal, harus dihentikan dari akar—dimulai dari kesadaran dalam keluarga.

╔══════════════════════════════════════╗
║ “Kita harus mendidik anak-anak dan perempuan ║
║ untuk berani mengatakan ‘TIDAK’ terhadap ║
║ kekerasan. Mereka harus merasa aman di rumah ║
║ dan tahu bahwa hak-hak mereka dilindungi ║
║ undang-undang.” ║
║ ║
║ — Ny. Tri Tito Karnavian ║
╚══════════════════════════════════════╝

Seruan itu terasa kuat—seolah menembus batas ruang dan waktu, mengingatkan bahwa rumah seharusnya menjadi tempat paling aman, bukan sumber luka.

Tak hanya bicara perlindungan, ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun keluarga yang sehat dan ideal, sebagai fondasi menciptakan generasi unggul dengan gizi yang cukup dan kualitas sumber daya manusia yang kuat.

Di sisi lain, langkah konkret juga dihadirkan melalui pelatihan pembuatan minyak kemiri. Potensi lokal yang selama ini sederhana, kini diangkat menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan.

╔══════════════════════════════════════╗
║ “Kita lihat potensi di sini sangat baik. ║
║ Melalui pelatihan ini, kami ingin mendukung ║
║ peningkatan ekonomi keluarga. Semoga produk ║
║ unggulan seperti minyak kemiri bisa berkembang ║
║ pesat.” ║
║ ║
║ — Ny. Tri Tito Karnavian ║
╚══════════════════════════════════════╝

Dari tangan-tangan perempuan Belu, kemiri bukan lagi sekadar bahan dapur, tetapi benih kemandirian ekonomi.

Di akhir sambutannya, Ny. Tri Tito Karnavian berjanji akan membantu mempromosikan Kabupaten Belu, khususnya kawasan perbatasan Motaain, hingga ke tingkat pusat agar semakin dikenal.

Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati Belu, Ketua dan Staf Ahli TP PKK Kabupaten Belu, Pj Sekda Belu, Pengurus Dekranasda NTT, Forkopimda Kabupaten Belu, pimpinan OPD, organisasi wanita, serta kader PKK dan undangan lainnya.

Secara kontekstual, penguatan peran perempuan di wilayah perbatasan seperti Belu menjadi strategi penting dalam pembangunan nasional yang inklusif. Ketika perempuan diberi ruang untuk berdaya—baik dalam perlindungan diri maupun ekonomi keluarga—maka fondasi masyarakat menjadi lebih kokoh. Inisiatif seperti ini bukan hanya menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga menyiapkan generasi masa depan yang lebih tangguh dan berkualitas.

Di Bete Lalenok, hari itu, bukan hanya program yang disampaikan—melainkan semangat yang ditanamkan. Sebab dari perbatasan, Indonesia tidak hanya dijaga batasnya, tetapi juga dibangun jiwanya—oleh perempuan-perempuan yang memilih untuk tetap berdiri, meski dunia seringkali tidak berpihak.

banner 325x300
Penulis: Redaksi BeluposEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *