Kombes Pol Enriko Silalahi Menggurat Harapan di Tanah Perbatasan: Audit Bukan untuk Mencari Salah, Tapi Merangkai Benang yang Kusut
KUPANG |BELUPOS.Com-Atap langit Atambua pagi itu kelabu, tapi sambutan di halaman Mapolres Belu membara hangat. Jumat (10/4/2026), sebuah rombongan hitam bertulang punggung integritas memasuki gerbang utama. Mereka bukan sekadar tamu. Mereka adalah denyut pengawas dari kejauhan: Tim Itwasda Polda NTT yang dipimpin Irwasda Kombes Pol Enriko Sugiharto Silalahi.
Di tengah barisan hormat Kapolres Belu, AKBP I Gede Eka Putra Astawa, tampak getar gugup sekaligus keyakinan. Sebab, di balik jabat tangan itu ada janji: audit yang akan berlangsung dua hari ini bukan perburuan kesalahan, melainkan penyusunan peta menuju perbaikan.
Tim beranggotakan lima orang yang diketuai Kombes Pol F. X. Irwan Arianto itu tak langsung masuk ruang. Mereka berjalan pelan menyusuri barisan kendaraan dinas di lapangan apel. Jari-jari menyentuh bodi, mata menyapu kebersihan, telinga menyimak suara mesin yang dinyalakan satu per satu. Bukan sekadar periksa surat dan fisik. Ini adalah ritual memastikan bahwa setiap roda yang berputar di perbatasan benar-benar siap mengantar polisi melayani masyarakat.
Setelah itu, pintu Aula Wira Satya tertutup. Di dalam, meja-meja panjang dipenuhi dokumen: laporan penyerapan anggaran, data operasi kepolisian, catatan Bhabinkamtibmas hingga tumpukan berkas penyelesaian tindak pidana. Propam, SKCK, Dikmas Lantas, MOU dengan pengguna jasa, bahkan logistik sarpras—semua dibedah sistematis hingga Sabtu (11/4/2026).
Di sela tumpukan kertas dan grafik anggaran, Kombes Pol Enriko duduk tenang. Suaranya lirih tapi menusuk kalbu:
“Kita datang bukan untuk mencari masalah dan mencari-cari kesalahan. Kita datang untuk memberikan solusi terbaik. Supaya Polres jajaran benar-benar melaksanakan tugas sesuai rencana program kerja tahun ini.”
Lalu ia menambahkan, seperti seorang konsultan yang merangkai kembali benang kusut:
“Berikan data yang baik. Agar kami bisa memberi masukan dan arahan. Sehingga saat ada audit dari BPK atau Itwasum, tak ditemukan lagi kesalahan. Jangan sampai pengelolaan anggaran kita menyisakan temuan yang bersifat atensi.”
Analisis Kontekstual:
Di tengah tekanan publik terhadap akuntabilitas institusi kepolisian, audit kinerja Tahap I TA. 2026 di Polres Belu ini bukan sekadar prosedur tahunan. Belu, sebagai daerah perbatasan RI-RDTL, memiliki kerentanan tinggi dalam hal pelayanan lintas batas, rawan konflik sosial, dan kebutuhan mobilitas logistik yang cepat. Maka, pengecekan kendaraan dinas yang dilakukan pertama kali oleh Irwasda menjadi sinyal penting: aset bukan sekadar barang, melainkan denyut operasional. Audit ini juga menjadi cermin bahwa pengawasan tidak harus di pusat; bisa dimulai dari daerah terdepan sekalipun. Ironisnya, selama ini audit kerap dipersepsikan sebagai momok, namun narasi “sebagai konsultan” yang dibawa Kombes Enriko mencoba membangun paradigma baru: pengawasan adalah bentuk kasih sayang institusional.
—
Kegiatan ditutup dengan penyerahan tabulasi sementara. Lembar-lembar angka itu belum final, tapi satu hal sudah mengendap: di setiap kolom temuan dan rekomendasi, sesungguhnya yang diperiksa adalah sejauh mana hati seorang pelayan publik masih berdetak jujur di tanah perbatasan.















