banner 728x250

Usai Penutupan Rosario, Marianus Rehu Leki Babak Belur Dikeroyok di Sarabau

ATAMBUA |BELUPOS. Com – Malam yang seharusnya menjadi penutup bulan penuh doa dan devosi kepada Bunda Maria justru berubah menjadi malam yang meninggalkan luka bagi Marianus Rehu Leki.

Di tengah suasana hening penutupan Bulan Mei dan doa Rosario di Desa Sarabau, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Sabtu malam lalu, Marianus mengaku menjadi korban pengeroyokan yang diduga dilakukan sejumlah orang hingga mengalami luka-luka dan harus menjalani visum di Puskesmas Wedomu.

Kasus tersebut kini telah dilaporkan secara resmi ke Polsek Tasifeto Timur dan tercatat dengan Nomor Polisi STPL/20/V/2026/Sektor Tastim. Laporan diterima melalui Kepala SPK III Polsek Tasifeto Timur, AIPDA Petrus C.H. Rodrigues, di bawah pimpinan Kapolsek IPDA Yusran.

Menurut penuturan korban kepada media, Senin (1/6/2026), peristiwa bermula saat dirinya berjalan dari rumah menuju lokasi doa Rosario dalam rangka penutupan Bulan Mei.

Di perjalanan, tepat sebelum tiba di rumah doa, ia dipanggil oleh seseorang bernama Untung Besin.

Percakapan singkat pun terjadi.

╔════════════════════════════════╗

“Reku mau ke mana?”

“Saya mau ke tempat doa.”

“Tidak usah ke tempat doa lagi, doa sudah habis. Mari kita duduk dan minum kopi. Kopi ada, tapi gula tidak ada.”

╚════════════════════════════════╝

Karena merasa tidak ada yang mencurigakan, Marianus kemudian kembali ke rumahnya untuk mengambil gula sebagaimana permintaan tersebut.

Namun, saat kembali dari rumahnya dan melintas di depan rumah Lorensius Latek, situasi mendadak berubah.

Marianus mengaku diserang secara bersama-sama oleh sejumlah orang yang disebutnya bernama Jerry, Wawan, Hendro dan beberapa lainnya.

╔════════════════════════════════╗

“Saya dipukul secara membabi buta sampai babak belur. Karena itu saya langsung melaporkan kejadian ini ke Polsek Tasifeto Timur dan menjalani visum di Puskesmas Wedomu.”

╚════════════════════════════════╝

Saat ini, kasus tersebut sedang dalam penanganan pihak kepolisian untuk mengungkap motif di balik dugaan pengeroyokan tersebut.

Korban berharap aparat penegak hukum dapat memproses para pelaku sesuai ketentuan hukum yang berlaku sehingga rasa keadilan dapat dirasakan oleh masyarakat.

Secara kontekstual, kasus pengeroyokan masih menjadi salah satu bentuk kekerasan sosial yang kerap memicu keresahan di tengah masyarakat pedesaan. Ketika penyelesaian persoalan dilakukan melalui kekerasan, bukan melalui dialog atau mekanisme hukum, maka yang terluka bukan hanya korban secara fisik, tetapi juga rasa aman dan kepercayaan masyarakat terhadap kehidupan sosial yang harmonis.

Kini, di Desa Sarabau, malam penutupan Rosario yang semestinya dikenang sebagai malam doa dan kedamaian justru menyisakan cerita berbeda. Di antara luka yang masih membekas dan proses hukum yang mulai berjalan, tersimpan harapan sederhana seorang warga: agar keadilan tidak berhenti sebagai kata-kata, tetapi benar-benar hadir bagi mereka yang mencari perlindungan hukum.

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *