banner 728x250

Dari Pelosok Manleten, Kapolres Belu Tebar Kurban dan Kasih: Idul Adha Menjadi Jembatan Persaudaraan di Tapal Batas

ATAMBUA |BELUPOS.Com – Langit Idul Adha 1447 Hijriah di Kabupaten Belu terasa berbeda. Dari halaman belakang Mapolres Belu hingga lorong-lorong sunyi di Dusun Haekrit dan Aitaman, Desa Manleten, aroma daging kurban bercampur dengan hangatnya persaudaraan yang dirajut tanpa sekat.Usai pelaksanaan Sholat Idul Adha, Rabu (27/05/2026), Kapolres Belu, AKBP I Gede Putra Astawa, bersama jajaran perwira dan brigadir Polres Belu yang beragama Islam melaksanakan penyembelihan hewan kurban berupa empat ekor sapi dan satu ekor kambing.

Di balik denting takbir yang masih menggema, proses penyembelihan berlangsung penuh khidmat. Setelah diperiksa dokter hewan dari Dinas Peternakan Kabupaten Belu dan dinyatakan layak konsumsi, daging kurban kemudian dikemas rapi oleh panitia kurban Polres Belu untuk dibagikan kepada masyarakat.

Ratusan kantong daging kurban selanjutnya disalurkan kepada keluarga besar Polres Belu, warga Kelurahan Tenukiik, hingga masyarakat kurang mampu atau kaum duafa di Dusun Haekrit dan Aitaman, Kecamatan Tasifeto Timur — wilayah perbatasan yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.

Perjalanan menuju dua dusun itu memakan waktu sekitar tiga puluh menit dari Kota Atambua. Namun medan dan jarak tak mengurangi semangat Kapolres Belu bersama anggota yang didampingi Ketua RT setempat untuk mendatangi rumah demi rumah, menyerahkan langsung daging kurban dan beras kepada sembilan kepala keluarga di Dusun Haekrit dan dua puluh dua kepala keluarga di Dusun Aitaman.

Di tengah rumah-rumah sederhana yang berdiri tenang di kaki perbukitan Manleten, senyum warga pecah saat bantuan itu tiba. Anak-anak berlarian kecil, sementara para orang tua menyambut hangat rombongan kepolisian yang hadir bukan membawa sirene, melainkan kepedulian.

╔════════ ❀•°❀°•❀ ════════╗
“Apa yang kami lakukan hari ini adalah bentuk silaturahmi sekaligus mempererat tali persaudaraan antar sesama di Hari Raya Idul Adha. Jangan dilihat dari isi ataupun nilainya, tetapi ini adalah niat tulus kami untuk membantu saudara-saudari yang hidup dalam keterbatasan,” ujar Kapolres Belu, AKBP I Gede Putra Astawa.
╚════════ ❀•°❀°•❀ ════════╝

Kapolres Belu mengatakan, pembagian daging kurban dan beras tersebut merupakan bagian dari upaya Polri untuk semakin mendekatkan diri dengan masyarakat, khususnya di wilayah perbatasan RI–Timor Leste.

Menurutnya, momentum Idul Adha bukan hanya tentang ibadah kurban, tetapi juga tentang membangun keharmonisan, merawat toleransi, dan menghadirkan rasa damai di tengah masyarakat.

╔════════ ❀•°❀°•❀ ════════╗
“Kita sebagai umat beragama harus saling menjaga toleransi, selalu kompak menjaga persaudaraan dan kerukunan antar umat beragama. Jangan sampai terpancing oleh pihak-pihak yang ingin memecah belah persatuan yang selama ini dirawat dengan baik,” pesan mantan Kapolres Lembata itu.
╚════════ ❀•°❀°•❀ ════════╝

Tak hanya membagikan daging kurban dan beras, Kapolres Belu juga menyerahkan susu bergizi kepada anak-anak di dua dusun tersebut. Langkah itu menjadi bagian dari komitmen Polri dalam mendukung peningkatan gizi anak sekaligus menekan angka stunting di wilayah pedesaan.

Sementara itu, Ketua RT Dusun Aitaman mengaku terharu atas kunjungan langsung Kapolres Belu bersama rombongan ke wilayah mereka.

╔════════ ❀•°❀°•❀ ════════╗
“Alhamdulillah, kami tidak menyangka Pak Kapolres datang langsung membawa daging kurban dan beras untuk kami. Mudah-mudahan semua kebaikan ini membawa berkah bagi kita semua,” ungkapnya penuh haru.
╚════════ ❀•°❀°•❀ ════════╝

Secara kontekstual, kegiatan sosial seperti ini memiliki makna yang lebih dalam bagi masyarakat perbatasan. Di tengah tantangan ekonomi, keterbatasan akses, dan jarak geografis yang panjang, kehadiran aparat negara secara humanis menjadi simbol bahwa negara tidak hanya hadir lewat aturan dan keamanan, tetapi juga melalui empati dan sentuhan kemanusiaan yang nyata.

Di ujung sore Manleten, ketika langkah rombongan perlahan meninggalkan dusun-dusun kecil itu, yang tertinggal bukan sekadar kantong daging kurban atau beras bantuan. Yang tinggal adalah rasa dihargai, rasa diperhatikan, dan keyakinan bahwa persaudaraan masih tumbuh hangat di tapal batas negeri.

banner 325x300
Penulis: Redaksi BeluposEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *