banner 728x250

Kota Atambua Bersolek di Bawah Rindang Jati Nenuk

Robert Mali: Kota Perbatasan Harus Asri, Bukan Sekadar Lintasan

ATAMBUA, |BELUPOS.Com – Pagi yang hangat menyelimuti dua jalur Hutan Jati Nenuk. Di antara barisan pohon yang menjulang, langkah-langkah kecil pembenahan terus dilakukan. Sapu bergerak, ranting dirapikan, sampah dipungut satu per satu. Kota ini sedang belajar merawat wajahnya sendiri.

Di bawah rindangnya jati yang menjadi paru-paru Atambua, Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan Kabupaten Belu kembali turun tangan menata kawasan tersebut, Kamis (12/02/2026). Penataan itu bukan sekadar rutinitas, melainkan pesan yang ingin ditegaskan: kota perbatasan harus tampil bermartabat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan Kabupaten Belu, Robert Mali, mengatakan bahwa dua jalur Nenuk merupakan etalase utama Atambua. Setiap orang yang melintas—baik dari Timor Leste maupun dari kabupaten lain di NTT—akan melihat wajah kota ini dari sana.

“Kota perbatasan harus tampil asri. Kita ini lintasan internasional. Kalau lingkungannya bersih dan tertata, orang akan merasa nyaman dan bangga datang ke Atambua,” ujar Robert Mali kepada Belu Pos.

Bagi Robert, menjaga kebersihan bukan hanya tugas pemerintah. Ia menyebutnya sebagai gerakan kolektif—gerakan warga kota yang sadar bahwa udara bersih adalah hak sekaligus tanggung jawab bersama.

Hari itu, ia bersama jajaran dinasnya tidak hanya melakukan penataan fisik, tetapi juga menyampaikan imbauan langsung kepada masyarakat agar menjaga kebersihan di lingkungan masing-masing.

“Mari kita menata dan menjaga kebersihan lingkungan serta sampah di tempat masing-masing. Kalau lingkungan bersih, kita bisa menghirup oksigen segar dan menjaga kesehatan,” tegasnya.

Di antara debu jalan dan desir angin yang menyentuh pucuk jati, pesan itu terasa sederhana namun mendasar: kota yang bersih adalah kota yang hidup.

Kota Beriman, Kota Perbatasan, Kota Wisata

Atambua selama ini dikenal sebagai kota perbatasan dan juga kota beriman. Dua identitas itu, menurut Robert, harus tercermin dalam wajah kota yang rapi dan asri. Ia membayangkan Atambua bukan sekadar titik singgah, tetapi destinasi.

Hutan Jati Nenuk, dengan dua jalurnya yang ikonik, bisa menjadi koridor wisata hijau jika dirawat dengan konsisten. Pepohonan yang tertata, bahu jalan yang bersih, dan kesadaran warga terhadap sampah akan menjadi daya tarik tersendiri.

“Belu harus berani tampil sebagai kota perbatasan terbaik dari 22 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur,” tandasnya.

Pernyataan itu bukan sekadar ambisi. Ia adalah ajakan. Ajakan untuk bangga, ajakan untuk peduli, dan ajakan untuk berubah.

Menata Kota, Menata Kesadaran

Penataan dua jalur Nenuk hanyalah satu langkah kecil. Namun dari langkah kecil itu, ada pesan besar yang sedang dibangun: bahwa kemajuan tidak selalu dimulai dari proyek besar, tetapi dari kebiasaan sederhana—tidak membuang sampah sembarangan, merawat ruang publik, dan menjaga pohon tetap berdiri tegak.

Atambua tidak hanya sedang membersihkan jalan. Ia sedang menata kesadaran.

Dan di bawah rindang jati Nenuk, kota ini perlahan membuktikan bahwa perbatasan bukanlah pinggiran—melainkan beranda terdepan Indonesia.

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *