JAKARTA |BELUPOS Com) —
Negeri ini tidak sedang bercerita tentang kekuatan.
Ia sedang bercerita tentang kepedulian.
Di tengah jembatan yang runtuh, jalan yang terputus, dan langit yang terus menumpahkan hujan, Indonesia memilih satu sikap paling sunyi sekaligus paling berani: hadir. Hadir tanpa banyak kata. Hadir tanpa menunggu tepuk tangan dunia. Hadir dengan tangan yang kotor lumpur dan hati yang penuh tanggung jawab.
Itulah yang membuat Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, S.H, M.H—pakar hukum internasional dan ekonom nasional—menyampaikan rasa terima kasihnya dengan suara yang tak sekadar rasional, tetapi juga personal.
“Saya bangga pada Presiden saya.
Bangga pada Indonesia.
Negara ini menolong rakyatnya dengan kemampuan sendiri—dan itu adalah kehormatan sebuah bangsa,”
ucapnya, menjawab pertanyaan para pemimpin redaksi media nasional dan internasional dari Jakarta.
Negara yang Datang Tanpa Janji, Pulang dengan Kerja
Ucapan terima kasih itu ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia, Jenderal (Purn) H. Prabowo Subianto, yang bersama TNI dan Polri bergerak cepat ke wilayah bencana—bukan sekadar sebagai pemimpin, tetapi sebagai pelindung.
Pasca kunjungan Presiden ke Aceh pada Desember 2025, arah kebijakan negara berubah menjadi satu garis lurus: selamatkan manusia, pulihkan kehidupan.
Arahan Presiden tidak berhenti pada kertas rapat. Ia menjelma menjadi kerja lapangan:
- Infrastruktur dipulihkan secepat mungkin. Jembatan Bailey Teupin Mane di ruas Bireuen–Takengon diperintahkan selesai dalam hitungan pekan, dengan KSAD sebagai komandan langsung di lapangan.
- Pangan tidak boleh terputus. Negara memastikan perut rakyat tetap terisi, meski dapur-dapur mereka terendam air.
- Bantuan harus tepat sasaran. Hunian sementara dan tetap bukan sekadar bangunan, tetapi ruang untuk kembali berharap.
- Lingkungan diingatkan. Karena bencana bukan hanya peristiwa, tetapi peringatan.
Dalam rapat terbatas, Presiden juga menaruh perhatian pada kesehatan, pendidikan, dan logistik—tiga hal yang menentukan apakah sebuah masyarakat bisa bangkit atau justru tenggelam lebih dalam.
Di Balik Angka dan Peta, Ada Nyawa
Namun, Prof. Sutan Nasomal mengajak publik melihat lebih dekat—ke tempat di mana kamera sering terlambat datang.
Puluhan jembatan terputus. Jalan hilang ditelan lumpur. Sumatera telah hampir sebulan hidup dalam keadaan darurat. Masih ada warga yang belum ditemukan—tertimbun, tenggelam, hilang dalam senyap.
“Mencari manusia di dalam lumpur bukan perkara mudah.
Tim ahli sangat terbatas. Wilayahnya terlalu luas,”
ujarnya dengan nada prihatin.
Di banyak titik, listrik belum menyala. Internet terputus. Ribuan orang mengungsi dengan tubuh lelah dan perut kosong. Air bersih langka. Gas dan bensin sulit masuk. Beras menjadi barang yang ditunggu seperti kabar baik.
Dan di beberapa sudut pedalaman, bendera putih berkibar—bukan sebagai simbol menyerah, melainkan jeritan terakhir agar negara dan sesama manusia mendengar.
Ketika Rakyat Bertahan, Solidaritas Menjadi Penyelamat
Hujan belum berhenti. Cuaca masih berat. Namun harapan belum padam sepenuhnya—karena relawan terus datang.
Prof. Sutan Nasomal menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada masyarakat Indonesia yang bergerak tanpa diminta, menembus medan sulit, membawa logistik dan empati.
“Setiap uluran tangan berarti hidup.
Pemulihan bisa lama, tapi yang terpenting rakyat tidak merasa ditinggalkan,”
katanya.
Ia mengingatkan bahwa bencana tidak berhenti pada hari banjir surut. Kelaparan dan penyakit bisa menjadi gelombang berikutnya. Karena itu, perhatian Presiden, sinergi pemerintah pusat dan daerah, serta bantuan kemanusiaan—baik dari dalam maupun luar negeri—menjadi kebutuhan mendesak.
“Ini bisa menjadi krisis panjang.
Yang dibutuhkan bukan hanya dana, tapi keahlian dan kemanusiaan,”
tegasnya.
Indonesia dan Pilihan untuk Tetap Manusiawi
Di tengah segala keterbatasan, Indonesia membuat satu pilihan penting: tidak berpaling. Tidak membiarkan rakyatnya bertahan sendirian di bawah hujan.
Dan mungkin, di sanalah makna negara sesungguhnya—
bukan pada gedungnya,
bukan pada pidatonya,
tetapi pada keberaniannya memeluk rakyat ketika mereka paling rapuh.
Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, S.H, M.H
Pakar Hukum Internasional | Ekonom Nasional
Presiden Partai Oposisi Merdeka
Jenderal Kompii
Pengasuh Ponpes ASS SAQWA PLUS















