banner 728x250

Jepang–China memanas: Prof Sutan Nasomal ingatkan Presiden RI “Siaga satu adalah kepentingan selamatkan Nusantara”

 

JAKARTA |BELUPOS.Com) — Ketegangan Jepang–China yang kini merambat ke level siap perang memantul seperti gema keras ke seluruh belahan dunia. Bagi Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH., MH., pakar hukum internasional dan ekonomi nasional, situasi ini bukan lagi sekadar perselisihan dua negara Asia Timur: ini lonceng peringatan bagi Indonesia.

Presiden RI harus siaga satu. Situasi global tidak menunggu kesiapan kita. Panglima TNI, Kapolri, dan Menlu harus memantau perkembangan 24 jam penuh,” ujar Prof. Sutan kepada para pemimpin redaksi media dalam dan luar negeri, 21 November 2025, melalui sambungan telepon dari Markas Pusat Partai Oposisi Merdeka.

Ketegangan yang mengusung bayangan perang

Dalam refleksinya, Prof. Sutan memotret langkah Jepang yang mendadak menginstruksikan warganya keluar dari Tiongkok, serta kebijakan balasan China yang memerintahkan warga mereka cepat meninggalkan Jepang. Dua keputusan ini, katanya, adalah “isyarat diplomatik paling keras sebelum peluru pertama dilepas.”

Ia menegaskan bahwa keseimbangan militer regional kini berada di titik paling rapuh sejak Perang Dunia II.

China jelas unggul kekuatan militernya. Jepang mungkin lebih kecil, tapi jangan remehkan negara yang pernah mengalahkan China dan bangkit dari abu bom atom. Teknologi perang mereka tidak boleh diremehkan,” tuturnya.

Bayang-bayang nuklir: ancaman yang nyata

Prof. Sutan mengingatkan, jika konflik ini melebar, nuklir bukan lagi kemungkinan—melainkan risiko yang semakin dekat.

Ia membentangkan catatan strategis global:

  • Persenjataan negara-negara Barat terkuras dalam konflik Palestina–Israel.
  • Stok alutsista Rusia dan Eropa menipis akibat perang Ukraina.
  • Korea Utara akan berpihak pada China; Korea Selatan akan terseret.
  • Amerika Serikat dan Rusia, dua negara dengan hulu ledak terbesar, tidak mungkin tinggal diam.

Jika Jepang dan China pecah perang, itu bukan duel dua negara. Itu olimpiade kekuatan militer dunia. Dan pemenangnya tidak ada—yang ada hanya kehancuran,” ungkapnya.

2026: tahun gelap yang diramal para strategis

Menurut berbagai analisis internasional yang ia kutip, tahun 2026 telah lama diprediksi sebagai “titik kritis konflik nuklir dunia”. Dan Indonesia, dengan posisi geografisnya, tidak mungkin dapat mengelak dari dampaknya.

Samudra Indonesia bisa berubah menjadi terminal kapal selam dan kapal induk. Pulau-pulau Nusantara bisa berubah menjadi pangkalan logistik. Walau perang terjadi di Laut China, dampak panjangnya bisa berlangsung lama di Laut Indonesia,” tegas Sutan.

Taiwan dan gambaran Palestina baru

Prof. Sutan menarik garis paralel yang membetot perhatian:

Taiwan, seperti Palestina, kini hanya objek tarik-ulur kekuatan besar. Jika perang pecah, ia akan menjadi laboratorium uji coba militer di Asia.”

Baginya, konflik ini bukan soal siapa melawan siapa, melainkan bagaimana dunia belajar dari ketidakmampuan menghentikan eskalasi.

Presiden harus bergerak: “selamatkan indonesia sebelum gelombang besar datang”

Di akhir pesannya, Prof. Sutan menekankan pentingnya langkah cepat Presiden Jenderal (Purn.) H. Prabowo Subianto:

Siaga satu bukan sikap panik. Itu langkah menjaga masa depan Indonesia. Dunia sedang berubah ke arah yang tidak menentu. Negara harus siap.

Sebagai pakar hukum perang dan pemimpin Partai Oposisi Merdeka, ia menutup dengan peringatan yang menggetarkan:

Jika perang dunia meledak di Asia, Indonesia bukan penonton. Kita berada tepat di jalur badai. Karena itu, persiapkan bangsa—sebelum sejarah memaksa kita membayar lebih mahal.


banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *