MALAKA | BELUPPO.Com —
Di sebuah pagi yang tenang di Desa Rabasa Hain, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, Minggu (15/03/2026), ratusan warga berkumpul dalam satu lingkaran adat yang sarat makna. Mereka datang bukan sekadar untuk menghadiri sebuah acara, melainkan untuk merawat ingatan kolektif tentang asal-usul, tentang leluhur, dan tentang syukur yang tak pernah usang oleh zaman.
Di tanah yang sama tempat jagung pertama dipanen dan doa-doa leluhur pertama kali dilantunkan,warga Rabasa Hain kembali menggelar ritual adat Hamis, sebuah tradisi tahunan yang menandai pembukaan makan jagung muda sekaligus ungkapan syukur atas hasil panen.
Ritual yang diselenggarakan oleh warga Rabasa Hain itu melibatkan puluhan suku adat dan ratusan warga dari berbagai lapisan warga. Mereka hadir dengan kesadaran yang sama: menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Suasana ritual berlangsung khidmat. Warga berkumpul di tempat adat, mengikuti prosesi yang telah diwariskan turun-temurun. Hamis bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari ritme kehidupan warga yang menautkan manusia, alam, dan sejarah.
Tua adat Katuas Uma Kabuka Leon Boni Nahak menjelaskan bahwa ritual ini memiliki makna yang jauh melampaui sekadar tradisi tahunan.
“Ritual ini menjadi momentum membangun kehidupan berbudaya. Ini juga menjadi atensi bagi kehidupan di zaman modern agar kita tidak melupakan sejarah kehidupan leluhur kita,” ujarnya kepada media ini.
Dalam tradisi Hamis buka puasa, warga memulai makan jagung muda sebagai simbol syukur atas karunia Tuhan dan para leluhur yang telah memberkati kerja keras mereka selama musim tanam.
Bagi masyarakat Rabasa Hain, prosesi ini tidak hanya menjadi perayaan panen, tetapi juga litani budaya yang terus diwariskan lintas generasi.
Ritual tersebut dilaksanakan secara rutin setiap bulan Maret, saat musim panen jagung tiba. Tradisi ini diyakini sebagai bagian penting dari tatanan hidup warga adat.
Keyakinan itu juga disertai kepercayaan yang kuat: warga adat Rabasa Hain meyakini bahwa melanggar ritual Hamis sebelum waktunya dapat mendatangkan malapetaka, bahkan membuat berbagai usaha tidak berhasil.
Tradisi di Tengah Arus Modernitas
Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, ritual Hamis di Rabasa Hain memperlihatkan bagaimana warga adat tetap mempertahankan identitas budayanya.
Tradisi seperti ini tidak hanya berfungsi sebagai simbol spiritual, tetapi juga menjadi mekanisme sosial yang menjaga solidaritas komunitas, memperkuat ikatan antar-suku, serta menjadi pengingat bahwa pembangunan modern tidak harus memutus akar sejarah sebuah warga.
Hari itu, jagung muda bukan sekadar makanan pertama musim panen. Ia menjadi simbol kesetiaan pada tanah, pada leluhur, dan pada janji yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Dan di Rabasa Hain, selama doa-doa adat masih dilantunkan dan jagung pertama tetap dibagikan dalam ritual Hamis, warisan leluhur itu akan terus hidup—menjadi cahaya kecil yang menjaga arah perjalanan sebuah komunitas di tengah zaman yang terus berubah.















