banner 728x250

Di Perbatasan yang Teduh, Imlek Datang Bersama Doa dan Kewaspadaan

Belu Menjaga Harmoni di Ujung Negeri, Antara Lentera Merah dan Langit Musim Hujan

ATAMBUA|BELUPOS.Com) — Lentera-lentera merah mulai tergantung di sudut-sudut rumah. Aroma dupa perlahan menguar, menyatu dengan angin lembap musim hujan yang turun dari perbukitan perbatasan.

Di Kabupaten , yang berbatasan langsung dengan , Tahun Baru Imlek datang bukan hanya sebagai perayaan, tetapi sebagai penanda harapan baru.

Situasi menjelang Imlek di wilayah ini terpantau aman dan terkendali. Tidak ada gejolak yang menonjol,” tutur Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Belu,   Apolonarius Manek Susar kepada Belupos, Senin(16/2/2026). Ia memastikan hal itu kepada media ini, Senin (16/02/2026).

Namun ketenangan bukan berarti tanpa kewaspadaan.

Harmoni yang Dijaga Bersama

Di ruang-ruang koordinasi, komunikasi terus dibangun. Kesbangpol merapatkan barisan bersama para pemangku kepentingan—tokoh agama, aparat keamanan, dan unsur masyarakat.

Tujuannya satu: menjaga kondusifitas daerah agar Imlek dirayakan dengan damai, tanpa gangguan, tanpa prasangka.

╔══════════════════════════════════╗
“Kita ingin perayaan Imlek berjalan aman dan penuh sukacita. Kebersamaan adalah kekuatan kita di perbatasan ini.”
╚══════════════════════════════════╝

Belu adalah rumah bagi keberagaman. Di sini, perayaan satu komunitas adalah kebahagiaan bersama. Tahun Baru Imlek menjadi ruang silaturahmi lintas iman, lintas budaya.

Waspada pada Langit yang Tak Selalu Ramah

Namun ada satu hal yang tak boleh dilupakan: alam.

Musim hujan membawa potensi bencana di beberapa wilayah. Tanah yang jenuh air, sungai yang meluap, angin yang tiba-tiba menguat—semuanya menjadi perhatian.

Kesbangpol mengingatkan agar masyarakat tidak lengah. Antisipasi dini terhadap potensi bencana alam menjadi bagian penting dari menjaga rasa aman.

╔══════════════════════════════════╗
“Selain menjaga keamanan sosial, kita juga perlu waspada terhadap situasi bencana alam. Mari kita bangun kerja sama dan lakukan aktivitas positif agar semua bisa kita lalui dengan baik.”
╚══════════════════════════════════╝

Di tengah gemerlap lampion, ada kesadaran kolektif untuk tetap siaga. Bahwa damai bukan hanya tentang tidak adanya konflik, tetapi juga tentang kesiapan menghadapi ujian alam.

Lentera Harapan di Tanah Perbatasan

Menjelang malam Imlek, kota kecil ini akan bersinar sederhana. Doa-doa akan dipanjatkan, keluarga berkumpul, dan harapan-harapan baru dititipkan pada tahun yang datang.

Di perbatasan negeri, Imlek bukan hanya perayaan etnis. Ia adalah simbol bahwa keberagaman bisa hidup berdampingan dalam damai.

Dan di bawah langit Belu yang kadang mendung, masyarakat memilih tetap percaya: bahwa kebersamaan adalah benteng paling kokoh.

Karena pada akhirnya, lentera yang paling terang bukanlah yang tergantung di pintu rumah—melainkan yang menyala di hati masyarakat yang saling menjaga.

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *