banner 728x250

Gotong Royong di Lidak: Menyapu Debu, Menanam Kepedulian

ATAMBUA, (BELUPOS.Com) — Di tengah riuh pasar Lolowa yang menjadi denyut ekonomi warga Kelurahan Lidak, Jumat pagi itu berubah menjadi pemandangan berbeda. Bukan transaksi jual beli yang mendominasi, melainkan semangat kebersamaan. Warga, aparat, dan pejabat turun tangan bersama dalam Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) — sebuah ritual sosial yang kembali mengingatkan makna asli kata gotong royong.

Kegiatan yang digelar Pemerintah Kelurahan Lidak, Kecamatan Atambua Selatan, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur, ini dihadiri berbagai unsur masyarakat. Turut hadir Camat Atambua Selatan, Mely Laka, Lurah Lidak, Paulus Nahak Boisala, Babinkamtibmas Kelurahan Lidak, Aipda Arka M. Bere, serta Babinsa Koramil Kota, Serma Yusuf Ratu. Hadir pula LPM, RW, RT, staf kecamatan, dan masyarakat sekitar.

Mereka bahu-membahu membersihkan area pasar Lolowa, mengumpulkan tumpukan sampah, dan menata kembali lingkungan sekitar. Di sela kegiatan, tawa dan sapaan menggantikan sekat jabatan. Di tangan mereka, sapu dan cangkul bukan sekadar alat kebersihan, melainkan simbol kesetaraan dan tanggung jawab bersama.

Kegiatan ini bukan seremonial semata, tapi pengingat bahwa hidup bersih adalah pangkal sehat. Kebersihan harus menjadi kewajiban rutin setiap kita, di mana pun kita berada,” ujar Lurah Lidak, Paulus Nahak Boisala, sembari mengarahkan warga yang sedang membersihkan selokan di tepi pasar.

Camat Atambua Selatan, Mely Laka, menilai kegiatan ini mencerminkan karakter masyarakat Belu yang sejak dulu menjunjung tinggi nilai gotong royong. “Kita ingin budaya ini terus hidup, bukan hanya pada momentum BBGRM, tetapi menjadi bagian dari perilaku sosial sehari-hari,” ujarnya dengan nada optimis.

Pasar Lolowa, yang biasanya sibuk dengan aroma rempah dan teriakan pedagang, hari itu menjadi ruang pembelajaran sosial. Anak-anak muda yang turut serta tampak antusias, sementara para orang tua menatap dengan bangga. Gotong royong bukan hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga menyapu sikap acuh yang kerap tumbuh di tengah modernitas.

Dalam pandangan Lurah Paulus, kegiatan semacam ini adalah bentuk kecil dari cinta pada kampung sendiri. “Kalau lingkungan kita kotor, itu artinya hati kita belum sepenuhnya peduli,” katanya lirih, namun tegas.

Menjelang siang, tumpukan sampah telah hilang, berganti dengan wajah pasar yang lebih bersih. Namun lebih dari itu, ada sesuatu yang tumbuh di antara warga — kesadaran baru bahwa kebersihan bukan tanggung jawab pemerintah semata, melainkan cermin peradaban bersama.

Di Lidak, gotong royong bukan sekadar warisan kata, melainkan napas kehidupan yang terus dijaga. Di balik sapu dan karung sampah, tersimpan harapan sederhana: bahwa masyarakat yang bersih lahir dari hati yang bersih — dari mereka yang mau bergerak bersama tanpa pamrih.


 

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *