banner 728x250

Belu di Persimpangan Bahaya: Aids dan WTS Mengintai Perbatasan

ATAMBUA, (BELUPOS.Com) — Di balik hiruk-pikuk perlintasan dua negara, Kabupaten Belu kini menghadapi ancaman sosial yang kian nyata: meningkatnya kasus AIDS dan praktik WTS yang perlahan merambah hingga ke jantung kota. Persoalan ini bukan sekadar statistik kesehatan, melainkan cermin dari perubahan sosial di wilayah perbatasan yang tak lagi tenang.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Belu, Frederikus Lau Bone, menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak tinggal diam menghadapi situasi ini.
“Kami akan segera mengidentifikasi titik-titik rawan dan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk melakukan sosialisasi serta penertiban,” ujarnya saat dihubungi BeluPos, Jumat (24/10/2025).

Frederikus menuturkan, langkah awal yang akan ditempuh adalah menyasar tempat-tempat yang diduga menjadi lokasi aktivitas terselubung, seperti homestay, rumah kos, rumah penduduk, hingga hotel yang tersebar di berbagai wilayah Belu.
“Penertiban ini bukan semata tindakan hukum, tapi juga upaya moral untuk menjaga masa depan generasi muda,” tegasnya.

Belu, yang dikenal sebagai pintu gerbang Indonesia–Timor Leste, memang memiliki dinamika sosial dan ekonomi yang unik. Mobilitas tinggi manusia dan barang membawa peluang sekaligus risiko—terutama bagi kaum muda yang rentan terhadap pengaruh negatif.

“Ini persoalan kita semua,” tutur Frederikus lagi. “Pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, adat, pemuda, dan lembaga pendidikan harus bahu membahu. Orang tua juga perlu menjadi benteng pertama bagi anak-anak mereka.”

Ia menambahkan, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk menekan laju penyebaran penyakit dan praktik sosial menyimpang di wilayah perbatasan. “Kami ingin Belu tetap menjadi perbatasan yang bermartabat, bukan pintu masuk bagi masalah-masalah sosial baru,” katanya menutup pembicaraan.

 

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *