banner 728x250

Ratusan Siswa Keracunan MBG di Insana, DPRD TTU Desak Evaluasi Total dan Hentikan Sementara Operasi Dapur

KEFA | BELUPOS.Com — Program yang seharusnya menghadirkan harapan bagi kesehatan generasi muda justru berubah menjadi kabar yang mengguncang. Di Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), ratusan siswa dilaporkan mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Peristiwa itu bukan sekadar insiden biasa. Ia memantik kegelisahan publik sekaligus memunculkan tuntutan agar pengelolaan program yang dibiayai negara tersebut diperiksa secara serius.

Anggota DPRD TTU yang juga Ketua Fraksi Partai Golkar di DPRD TTU, Wilem Oki, kepada Belu Pos, Sabtu (06/02/2026), menyampaikan keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut.

Menurutnya, tragedi yang menimpa para siswa di Insana harus dipandang sebagai peristiwa kemanusiaan yang serius, bukan sekadar kesalahan teknis dalam penyediaan makanan.

╔════════════════════════════════╗
“Beberapa hari ini kita dikagetkan dengan kejadian keracunan yang menimpa ratusan anak sekolah di Insana dari program Makan Bergizi Gratis. Kita tentu terpanggil untuk memberi simpati dan atensi yang lebih serius.”
╚════════════════════════════════╝

Wilem menegaskan bahwa akar persoalan bukan terletak pada konsep program MBG itu sendiri, melainkan pada pelaksanaan di lapangan yang dinilai lalai bahkan menyimpang dari standar yang seharusnya dijalankan.

╔════════════════════════════════╗
“Bagi saya ini bukan kejadian biasa, melainkan tragedi kemanusiaan yang diakibatkan oleh perlakuan manusia yang lalai dan menyimpang. Karena program ini dibiayai negara, maka yang pertama dikoreksi adalah pelaksana program dapur tersebut.”
╚════════════════════════════════╝

Ia menilai, kualitas pelaksanaan program harus menjadi perhatian utama agar tujuan besar menghadirkan generasi yang sehat tidak justru tercoreng oleh kelalaian pengelola.

╔════════════════════════════════╗
“Kita mendukung program ini. Tetapi kualitas pelaksanaannya harus benar-benar diperhatikan dan dimaksimalkan agar dapat menjadi gerbang menuju terwujudnya kesehatan bagi generasi penerus bangsa.”
╚════════════════════════════════╝

Wilem juga mengungkapkan bahwa kasus keracunan siswa akibat makanan dari program tersebut bukan pertama kali terjadi di TTU. Namun kejadian kali ini disebutnya sebagai yang paling besar jumlah korbannya.

Karena itu ia meminta pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap SPPG atau dapur pelayanan MBG, khususnya dalam memperketat rantai pengawasan produksi makanan.

╔════════════════════════════════╗
“Pengawasan harus diperkuat mulai dari pemilihan bahan, penyimpanan, pengolahan hingga distribusi makanan. Dalam rangka evaluasi, saya mengusulkan agar pelayanan dapur tersebut dihentikan sementara sampai benar-benar pulih.”
╚════════════════════════════════╝

Menurutnya, langkah penghentian sementara itu penting karena kejadian tersebut telah memicu trauma psikologis bagi banyak siswa yang sebelumnya menjadi penerima manfaat program tersebut.

Analisis Kontekstual

Program Makan Bergizi Gratis pada dasarnya dirancang sebagai investasi kesehatan generasi muda sekaligus strategi memperbaiki kualitas gizi anak sekolah. Namun ketika pengelolaannya tidak transparan, menu disajikan secara asal, dan orientasi keuntungan lebih dominan dibanding keselamatan konsumsi, program yang mulia itu justru berisiko berubah menjadi ancaman kesehatan. Kasus di Insana menjadi pengingat bahwa pengawasan mutu pangan publik harus berjalan seketat standar industri kesehatan, bukan sekadar rutinitas administratif.

Pada akhirnya, tragedi ini meninggalkan pelajaran pahit: sebuah program negara dapat membawa harapan besar, tetapi tanpa integritas dalam pelaksanaannya, harapan itu bisa berubah menjadi luka bagi mereka yang paling seharusnya dilindungi—anak-anak sekolah.

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *