banner 728x250

Prof. Dr. KH Sutan Nasomal: Saatnya Negeri Menemukan Damai Lewat Dialog

JAKARTA |BELUPOS.Com) – Dari Jakarta yang riuh, gema suara rakyat sampai juga ke tanah perbatasan. Jalanan ibu kota tak lagi sepi, massa bergerak dari Senen hingga depan Gedung DPR RI, membawa harapan agar Presiden Republik Indonesia membuka pintu dialog.

Di tengah hiruk pikuk itu, suara teduh datang dari Prof. Dr. KH Sutan Nasomal, SH., MH. Seorang tokoh bangsa yang melihat gelombang aspirasi bukan sebagai ancaman, melainkan panggilan untuk mendengar.

“Obat luka bangsa bukan benturan, melainkan pertemuan hati dalam dialog yang tulus,” ucapnya penuh makna.


Rakyat Hanya Ingin Didengar

Menurut Prof. Sutan, apa yang diminta rakyat sejatinya sederhana: duduk bersama, berdialog, dan mencari jalan terbaik. Ia menekankan, Presiden Prabowo Subianto telah bekerja keras hampir 200 hari ini. Namun, kelemahan koordinasi dari para pembantu presiden bisa saja menjadi sebab kegelisahan meluas.

“Presiden bisa mengundang mahasiswa, masyarakat, dan tokoh bangsa. Dengan dialog, akan lahir saling mengerti, saling memahami, dan saling percaya,” katanya.


Metafora Luka Bangsa

Dalam bahasa yang lembut, Prof. Sutan melukiskan bangsa sebagai tubuh yang bisa sakit.
“Jika gigi kita rusak parah, harus segera dicabut agar tubuh sehat kembali. Begitu pula, siapapun yang membuat bangsa ini sakit, harus dicopot dari jajaran pemerintahan,” tegasnya.

Ia juga menepis gosip yang menyebut aksi rakyat ditunggangi kepentingan asing. “Rakyat Indonesia punya hati. Mereka tidak ingin presidennya ditikam dari belakang. Yang mereka mau hanya satu: negeri ini sehat dan damai,” ujarnya.


Dari Perbatasan, Doa untuk Indonesia

Di tanah Belu, yang sehari-hari menjadi saksi perjumpaan antarbangsa, suara Prof. Sutan terasa sebagai pengingat. Bahwa Indonesia adalah rumah besar, tempat semua anak bangsa duduk dalam satu natoni kebersamaan.

“Cukuplah air mata rakyat, jangan lagi ada nyawa yang dikorbankan. Saatnya Presiden membuka hati dan berdialog. Dari sanalah kita bisa menata kembali rumah bersama ini,” ucap Prof. Sutan.

Ia menutup pesannya dengan doa sederhana:

“Dialog adalah jembatan. Dari sanalah kita membangun Indonesia yang damai, adil, dan bahagia.”


BeluPos mencatat: suara damai dari seorang akademisi menjadi penawar di tengah riuh politik nasional. Dari Jakarta hingga Atambua, dari jalanan kota hingga halaman rumah adat, harapan rakyat sama: agar negeri ini kembali teduh dalam pelukan persaudaraan.


 

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *