banner 728x250

Penobatan Usi Indranas Gaho Bukifan: Merajut Warisan, Mengukir Zaman

TTU |BELUPOS .Com)-Di sonaf yang berbisik pada angin, seorang penjaga hukum modern menyatu dengan napas panjang adat.

Hauteas. Suara gong adat menyayat senja, mengantarkan langkah mantap Indranas Gaho menuju pelataran Sonaf Bukifan Palesta. Di sini, di Hauteas, Biboki Utara, waktu berjalan dalam dua irama: detak jam dan denyut nadi leluhur.

Kamis, 4 Desember 2025, menjadi hari di mana kedua irama itu berpaut, menyaksikan seorang Ketua Umum PERADAN ditahbiskan menjadi Usi/Raja dengan gelar kehormatan Usi Indranas Gaho Bukifan.

“Adat adalah benang emas yang menyambung hati nenek moyang ke telapak tangan kita hari ini. Ia bukan beban, tetapi tali pengikat yang membuat kita tidak hilang dalam badai zaman,” demikian bisik salah seorang tetua usai ritual, menyentuh inti dari seluruh prosesi sakral tersebut.

Di bawah naungan atap jerami Sonaf yang menyimpan ribuan kisah, udara bergetar khidmat. Penobatan ini bukan sekadar seremonial; ia adalah sebuah sumpah yang terpatri dalam sunyi, dipimpin langsung oleh Usi Yohanes Taek Bukifan dan para raja lainnya. Keputusan telah matang melalui musyawarah adat, menelusuri kembali sejarah dan garis darah warisan yang tak terputus.

Prosesi pengukuhan dimulai dengan pemasangan perlengkapan kebesaran: sarung tenun yang mencatat pola kehidupan, pedang yang menyimpan martabat, tas adat penyimpan hikmah, dan destar yang mengikat komitmen di kepala dan jiwa. Setiap helai, setiap lekuk, adalah alfabet dari bahasa budaya yang hendak dijaga.

Ritual kemudian bergerak ke jantung keyakinan. Di dalam ruang paling keramat Sonaf, suasana mendadak hening dan dingin yang menyentuh sumsum. Hanya para Usif/Raja yang diperkenankan masuk.

Di sana, ayam putih dan babi berbulu hitam-putih dipersembahkan. Saat organ dalam hewan itu menunjukkan tanda “keterbukaan dan keselamatan”, sebuah desahan lega terasa. Itulah tanda restu leluhur. “Mereka menerima,” ucap tetua adat, singkat, penuh makna.

Ritual dilanjutkan dengan makan adat dan minum sopi. Di sini, cangkir yang diangkat bukan sekadar berisi cairan; ia adalah gelas pengesahan. Setiap tegukan adalah ikrar untuk mengayomi, setiap suapan adalah janji untuk melestarikan. Sidang adat pun menetapkan: penobatan telah sah.

Makna di Balik Mahkota Adat

Kedudukan baru ini adalah amanat budaya. Usi Indranas Gaho Bukifan, dengan rekam jejak dan kecakapannya, dipandang sebagai tunas yang tepat untuk menyambung rantai emas tradisi. Mandatnya jelas: menjaga keamanan dan kesejahteraan warga Fetor Bukifan Palesta, menjadi pelindung nilai-nilai adat, penjunjung musyawarah dan keadilan, serta jembatan harmonis dengan dunia luar.

Penobatan ini adalah sebuah simbiosis yang indah: menyatukan ketajaman pikiran hukum modern dengan kedalaman kearifan lokal. Ia adalah pengikat kekeluargaan besar Bukifan Palesta, sekaligus deklarasi bahwa identitas budaya harus tetap tegak berdialog dengan masa kini.

Harapan pun mengental, terutama pada Sonaf yang megah. Ia bukan lagi sekadar rumah adat, tetapi living museum yang bernapas, destinasi budaya yang dapat menceritakan epik panjang sebuah bangsa.

Dengan selesainya seluruh rangkaian, sebuah babak baru dimulai. Usi Indranas Gaho Bukifan kini telah menyandang gelar yang melekatkan tanggung jawabnya tak hanya pada manusia yang hidup, tetapi juga pada mereka yang telah pergi, dan pada generasi yang belum lahir.

Upacara ini adalah lebih dari pengukuhan seorang pemimpin. Ia adalah sebuah puisi panjang yang ditulis dengan laku, tentang keberanian merawat akar sambil merentangkan dahan ke langit masa depan. Sebuah tonggak bahwa di Bukifan Palesta, masa lalu bukan kuburan, tetapi sumber mata air untuk menyirami benih-benih zaman yang akan datang.

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *