banner 728x250

Hijau yang Dilawan dari Tanah Tersisa: Jejak Sunyi Alexander Lona Menantang Tanduk Kering NTT

 

ATAMBUA | BELU POS — Tanah itu pernah retak. Langit seolah pelit menurunkan hujan. Di , musim basah hanya singgah sebentar—tiga bulan yang cepat berlalu—sementara sembilan bulan lainnya adalah kisah panjang tentang panas, debu, dan harapan yang diuji.

Di bentang alam seperti itu, pertanian lebih sering menjadi soal bertahan hidup ketimbang menghasilkan. Hutan-hutan ditebas, tanah menjadi gundul, dan setiap musim hujan datang, longsor seperti rutinitas yang tak pernah absen. Namun, di tengah lanskap yang nyaris menyerah, seorang pemuda memilih melawan sunyi, Namanya  Alexander Lona.

Sejak 2020, tanpa sorotan dan tanpa bayaran, ia memulai sesuatu yang bagi sebagian orang mungkin tampak mustahil: menanam harapan di tanah yang kering. Ia berjalan dari bilangan Tirta hingga Weaituan di , menapaki kampung adat Mata Besi di , hingga kawasan Sabanase dan Bendungan Rotiklot .

Di sana, ribuan pohon ia tanam—bambu, bunga terompet, sepe, dan berbagai tanaman lain yang ia pilih dengan cermat, menyesuaikan dengan kerasnya karakter iklim NTT. Perlahan, puluhan hektar yang dulu tandus mulai berubah warna. Hijau kembali berani muncul.

┏━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━┓
“Beta cuma mau hutan hidup kembali. 
Kalau hutan ada, air pasti ikut datang. 
Dan kalau air ada, kehidupan pasti ikut bertahan.”
┗━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━┛

Ia tidak menunggu program. Tidak menunggu proyek. Tidak pula menunggu upah. Setiap hari, langkahnya adalah komitmen yang terus diperbarui oleh keyakinan sederhana: bahwa menanam adalah bentuk paling jujur dari mencintai tanah sendiri.

Alexander juga mengajak masyarakat untuk tidak tinggal diam. Baginya, menjaga hutan bukan sekadar kewajiban moral, melainkan kebutuhan mendesak untuk masa depan bersama. Ia pun berharap pemerintah hadir lebih nyata, berjalan berdampingan dengan masyarakat, agar NTT tidak lagi identik dengan tanah tandus, melainkan tanah yang memberi kehidupan.

Analisis Kontekstual:
Apa yang dilakukan Alexander Lona mencerminkan paradoks klasik pembangunan di wilayah kering seperti NTT: di satu sisi eksploitasi lahan terus terjadi karena tekanan ekonomi, namun di sisi lain upaya konservasi masih bertumpu pada inisiatif individu. Ketika perubahan iklim memperpanjang musim kering dan memperpendek musim hujan, gerakan seperti ini menjadi krusial—bukan hanya untuk menjaga ekologi, tetapi juga untuk menyelamatkan keberlanjutan ekonomi masyarakat berbasis pertanian.

Kini, di antara batang-batang muda yang mulai tumbuh dan tanah yang perlahan menahan air, ada satu hal yang tak bisa diukur dengan angka: ketekunan seorang anak muda yang memilih untuk tidak menyerah.

Dan mungkin, di masa depan, ketika hutan kembali rimbun dan air mengalir lebih lama, nama itu akan tetap hidup—bukan sekadar dikenang, tetapi menjadi alasan mengapa generasi berikutnya berani menanam harapan di tanah yang sama.

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *