ATAMBUA |BELUPOS.Com — Di Gedung Wanita Betelalenok, Sabtu siang itu, tepuk tangan menggema ketika panji organisasi diserahkan. Namun bagi Bupati Belu, momentum pelantikan bukan sekadar agenda formal. Ia menjadikannya panggung seruan perubahan.
Di hadapan pengurus baru Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia, Bupati Belu, , menyampaikan pesan tegas: organisasi kepemudaan tidak boleh berhenti pada seremoni. Ia harus menjadi mesin penggerak ekonomi dan pengawal masa depan daerah.
╔══════════════════════════════════╗
“Kita sudah menandatangani MoU. Saya berharap kerja sama ini tidak berhenti pada seremoni saja. Jangan sampai empat atau lima tahun ke depan kita lupa apa yang pernah kita sepakati.”
╚══════════════════════════════════╝
Pelantikan dan Rapat Kerja Cabang (Rakercab) DPC (GAMKI) Kabupaten Belu Masa Bakti 2025–2028 itu mengusung tema “Pulihkan Bangsa Kami, Mewujudkan Kepemimpinan Pemuda Kristen yang Transformatif dan Inovatif.” Tema yang, bagi Willy Lay, harus diterjemahkan dalam kerja nyata.
Dari Lumbung Ternak ke Lumbung Gagasan
Di tengah sambutannya, Willy Lay mengingatkan bahwa Belu dan Pulau Timor pernah dikenal sebagai lumbung ternak nasional. Potensi itu, katanya, tidak boleh dibiarkan tinggal cerita sejarah.
Ia juga menyinggung peluang pengembangan tanaman gamal dan kelapa yang dapat diolah melalui riset dan inovasi untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat.
Belu adalah daerah perbatasan. Dan di perbatasan, kata Willy, perubahan tidak bisa menunggu.
╔══════════════════════════════════╗
“Program prioritas harus menyentuh pemberdayaan ekonomi. Jika ekonomi tumbuh, kesejahteraan meningkat, anak-anak bisa sekolah, dan kita tidak lagi mengirim tenaga kerja tanpa keterampilan yang memadai.”
╚══════════════════════════════════╝
Bagi Willybrodus Lay, S. H pembangunan tidak boleh terjebak pada beton dan aspal semata. Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) harus dikawal agar berorientasi pada pemberdayaan ekonomi rakyat.
Menjadi Lilin di Perbatasan
Ia menyinggung persoalan klasik NTT: rendahnya pendidikan dan keterampilan yang berujung pada tingginya angka pekerja migran non-prosedural dan kasus kematian tenaga kerja.
GAMKI, tegasnya, harus hadir sebagai “lilin” yang memberi terang.
╔══════════════════════════════════╗
“Jadilah seperti lilin, memberi terang bagi Kabupaten Belu, meskipun harus berkorban.”
╚══════════════════════════════════╝
Kalimat itu menggantung sejenak di udara, disambut hening yang sarat makna.
Momentum dan Komitmen
Acara kemudian dilanjutkan dengan serah terima jabatan melalui penyerahan pataka dari Ketua DPD GAMKI NTT kepada Ketua DPC GAMKI Kabupaten Belu. Penandatanganan berita acara dilakukan dan disaksikan langsung oleh Bupati Belu.
Momentum itu dirangkaikan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara DPC GAMKI Kabupaten Belu dan Pemerintah Daerah Kabupaten Belu—sebuah komitmen yang, menurut Willy Lay, harus hidup dalam kerja nyata, bukan sekadar arsip.
Turut hadir jajaran DPD GAMKI NTT Masa Bakti 2025–2028, para pemuda lintas agama, serta seluruh pengurus DPC GAMKI Kabupaten Belu.
Di Betelalenok siang itu, pelantikan bukan sekadar pengukuhan struktur organisasi. Ia menjadi titik tolak sebuah tantangan: membangun ekonomi, menekan kemiskinan, dan menjadikan pemuda sebagai aktor utama perubahan dari wilayah perbatasan.















