ATAMBUA |BELUPOS.Com — Tidak ada suara gemuruh yang mengiringi peluncuran itu. Hanya derap langkah dan keyakinan bahwa perubahan besar sering dimulai dari perjalanan yang sederhana.
Di Gedung Betelalenok, Atambua, Selasa (23/6/2026), Pemerintah Kabupaten Belu menyampaikan apresiasi atas dimulainya Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaborasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.
Sebanyak 63 mahasiswa akan hidup lebih dekat dengan masyarakat selama tiga bulan di Desa Sadi, Desa Tulakadi, dan Desa Dualaus. Mereka datang membawa disiplin ilmu, tetapi yang lebih penting: kesiapan untuk belajar langsung dari kehidupan desa.
Harapan yang dititipkan tidak kecil. Kehadiran mahasiswa diharapkan melahirkan inovasi, membuka ruang pemberdayaan, dan menawarkan langkah nyata untuk mempercepat pembangunan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat perbatasan.
Bagi Pemerintah Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, kolaborasi ini menjadi penanda bahwa pembangunan tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan dari atas. Ia membutuhkan tangan yang bekerja bersama dan gagasan yang tumbuh dari bawah.
“Pengabdian yang baik bukan tentang seberapa lama seseorang hadir, tetapi seberapa dalam jejak yang ditinggalkan,” menjadi semangat yang terasa dalam momentum tersebut.
Di tengah tantangan wilayah perbatasan, kehadiran mahasiswa lintas kampus juga menunjukkan bahwa pendidikan tinggi sedang mengambil peran yang lebih dekat dengan realitas masyarakat—bukan sekadar menghasilkan lulusan, tetapi ikut membentuk arah perubahan.
Kelak ketika masa tiga bulan itu berakhir, mungkin yang tersisa bukan hanya laporan kegiatan, melainkan cerita bahwa di sudut perbatasan, pernah ada orang-orang muda yang datang bukan untuk mengajar kehidupan—melainkan tumbuh bersama di dalamnya.















