banner 728x250

Sirene Untuk Masa Depan: Dari Betelalenok, Belu Menyalakan Perlawanan terhadap Stunting

ATAMBUA |BELUPOS.Com— Ada bunyi yang berbeda menggema di Gedung Wanita Betelalenok, Rabu, 24 Juni 2026. Bukan sekadar sirene seremoni, melainkan bunyi yang seolah memanggil kesadaran bersama: bahwa masa depan anak-anak Belu tidak boleh lagi ditentukan oleh keterbatasan gizi dan lingkar risiko yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di ruang itu, Pemerintah Kabupaten Belu bersama Yayasan Seribu Cita Bangsa (1000 Days Fund) resmi meluncurkan Program Community Care Model (CCM)—sebuah ikhtiar kolektif yang tidak hanya berbicara tentang angka penurunan stunting, tetapi tentang menjaga awal kehidupan agar tetap utuh, sehat, dan bermartabat.

Peluncuran ditandai dengan penekanan tombol sirene dan penandatanganan komitmen bersama seluruh perangkat daerah. Gestur sederhana yang pada hakikatnya memuat pesan besar: percepatan penanganan stunting tidak lagi diposisikan sebagai agenda sektoral, melainkan gerakan bersama yang melibatkan seluruh simpul kehidupan masyarakat.

Program CCM dirancang untuk memperkuat langkah-langkah pencegahan melalui pemberdayaan kader posyandu, pendampingan keluarga berisiko, serta penguatan kolaborasi lintas sektor. Dari rumah ke rumah, dari meja pelayanan hingga ruang-ruang kebijakan, pendekatan ini diharapkan mampu menghadirkan deteksi dini dan intervensi yang lebih cepat serta lebih tepat sasaran.

Bupati Belu, Willybrodus Lay, SH, menegaskan bahwa perang melawan stunting tidak bisa dipikul oleh pemerintah semata.

“Pencegahan stunting membutuhkan kerja sama semua pihak—mulai dari pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat hingga masyarakat itu sendiri,” tegasnya.

Pernyataan itu hadir bukan sebagai formalitas pidato, melainkan pengingat bahwa pertumbuhan anak tidak pernah berdiri sendiri. Di balik tubuh yang sehat, selalu ada keluarga yang didampingi, kader yang bekerja dalam diam, kebijakan yang berpihak, dan masyarakat yang memilih untuk saling menjaga.

Secara kontekstual, peluncuran Program CCM menunjukkan pergeseran penting dalam pendekatan pembangunan manusia: dari pola penanganan yang reaktif menuju model pencegahan berbasis komunitas. Ketika keluarga berisiko didampingi lebih awal dan kader di tingkat akar rumput diperkuat, maka intervensi tidak lagi datang saat masalah membesar, melainkan sejak tanda-tanda awal mulai terlihat.

Belu kini sedang menulis bab baru—bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari beton dan gedung tinggi, tetapi dari memastikan seorang anak dapat tumbuh tanpa kehilangan hak paling dasarnya: hidup sehat dan berkembang dengan penuh harapan.

Karena pada akhirnya, masa depan daerah tidak dibangun di ruang rapat, melainkan di pelukan keluarga, di meja makan yang cukup, dan di langkah kecil anak-anak yang hari ini sedang dijaga bersama.

banner 325x300
Penulis: Redaksi Belupos.comEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *