banner 728x250

Paskah di Atambua: Ketika Iman Menyalakan Cahaya di Tengah Keterbatasan

ATAMBUA | BELUPOS.com — Pagi itu, langit Atambua seolah turut berlutut dalam keheningan yang khidmat. Denting lonceng Gereja Katedral Santa Maria Immaculata menggema perlahan, memanggil umat untuk masuk dalam peristiwa iman yang paling agung: kebangkitan Sang Penebus. Di antara lautan umat yang memadati gereja, hadir Bupati Belu, Willybrodus Lay, S.H, menyatu tanpa sekat dalam doa bersama ribuan umat Katolik.

Misa Puncak Paskah dipimpin oleh Uskup Atambua, Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr., didampingi Rm. Krisantus Lake, Pr., dalam suasana yang tidak sekadar sakral—tetapi juga menggetarkan batin. Lilin-lilin yang menyala bukan hanya simbol terang, melainkan penegasan bahwa harapan tidak pernah benar-benar padam.

Dalam homilinya, sang gembala umat menyentuh inti terdalam makna Paskah—bahwa iman bukan soal melihat, tetapi percaya dan menjadi saksi dalam kehidupan nyata.

╔══════════════════════════════════╗
“Barang siapa yang percaya kebangkitan Tuhan,
ia akan selalu diliputi cahaya sukacita
dan kegembiraan sejati.”
╚══════════════════════════════════╝

Pesan itu mengalir lembut namun tegas, menembus kesadaran umat yang hidup di tengah berbagai pergulatan zaman. Uskup mengingatkan, menjadi pengikut Kristus bukanlah perkara mudah, namun justru di situlah letak panggilan sejati: tetap setia, bahkan saat dunia terasa gelap.

Di bangku-bangku gereja, wajah-wajah umat memantulkan harapan. Ada yang datang dengan luka, ada yang memikul beban hidup, tetapi semua pulang dengan satu hal yang sama—cahaya iman yang diperbarui.

Secara kontekstual, perayaan Paskah tahun ini hadir di tengah realitas sosial yang tidak ringan: tekanan ekonomi, dinamika sosial, hingga tantangan moral yang terus menguji keteguhan iman masyarakat. Dalam situasi demikian, pesan Paskah menjadi relevan—bahwa kebangkitan Kristus bukan sekadar peristiwa liturgis, melainkan energi spiritual yang menggerakkan umat untuk tetap menegakkan kasih, keadilan, dan harapan di tengah dunia yang sering kali rapuh.

Di akhir perayaan, gema doa dan nyanyian umat seakan menjadi satu kesatuan napas yang menghidupkan kembali semangat kebersamaan. Tidak ada yang pulang dengan hati yang sama seperti saat datang.

Sebab Paskah, pada akhirnya, bukan hanya dirayakan—tetapi dihidupi.

Dan dari Atambua pagi itu, terang itu kembali dinyalakan.

banner 325x300
Penulis: Redaksi BeluposEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *