banner 728x250

Negara Terkuat Dalam Sejarah ada di depan Mata Bukan Demokrasi,Tetapi Keteguhan

JAKARTA|BELUPOS Com —
Di tengah denting perayaan hari-hari besar nasional, di antara bendera yang berkibar dan pidato yang bergema, seorang akademisi senior memilih berbicara dengan nada berbeda. Bukan sorak, bukan euforia. Ia berbicara seperti membuka lembaran tua sejarah—perlahan, tajam, dan tak semua orang siap membacanya.

“Berbagai HUT di NKRI adalah penanda bahwa demokrasi, kemanusiaan, dan keamanan berbangsa kita masih berjalan elok,” ujar Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, SH, MH, Pakar Hukum Internasional dan Ekonom Nasional, saat menjawab pertanyaan para pemimpin redaksi media cetak dan daring, dalam dan luar negeri, Kamis (8/1/2026), dari Markas Pusat Partai Oposisi Merdeka, Jakarta, melalui sambungan telepon seluler.

Namun, dari kalimat pembuka yang terdengar damai itu, Prof Sutan justru membawa diskusi ke wilayah yang jarang disentuh secara jujur: siapa sesungguhnya negara terkuat dalam sejarah modern—dan mengapa bukan demokrasi yang menjawabnya?

Dunia Terbelah, Sejarah Sedang Menghakimi

Menurut Prof Sutan, dunia hari ini tidak lagi abu-abu. Ia terbelah tegas, seperti dua arus laut yang saling berhadapan. Selama lebih dari dua dekade terakhir, kekuatan ekonomi global diuji melalui perang dagang, teknologi, hingga perlombaan militer.

“Jawabannya kini gamblang. Yang kuat bukan yang paling keras meneriakkan demokrasi, tetapi yang paling konsisten berdiri di atas kakinya sendiri,” katanya.

Ia menyebut fakta yang, menurutnya, tak bisa lagi disangkal: negara-negara yang tidak mengikuti pola demokrasi ala ‘Paman Sam’ justru tampil lebih stabil, tenang, damai, dan sejahtera. Sementara itu, banyak negara demokrasi terperosok dalam utang, konflik internal, bahkan perang saudara.

Demokrasi, dalam pandangan Prof Sutan, kerap tampil seperti panggung sandiwara megah—lampunya terang, tetapi naskahnya ditulis oleh kepentingan.

“Demokrasi Palsu dan Angka Halusinasi”

Dengan nada yang tegas namun terukur, Prof Sutan menyebut bahwa selama 25 tahun terakhir, dunia menyaksikan propaganda besar bernama demokrasi.

“Demokrasi jurdil tidak pernah benar-benar ada. Angka kemenangan pemilu sering kali adalah angka halusinasi yang dibayar mahal oleh kepentingan politik,” ujarnya.

Ia menyinggung Amerika Serikat—yang ia sebut sebagai Negara Paman Sam—terjebak dalam narasi demokrasi palsu. Menurutnya, luka sosial akibat intervensi masa lalu membuat warga negara itu bahkan tidak sepenuhnya bebas diterima di banyak belahan dunia.

Lebih jauh, ia mengungkap fakta keberadaan ratusan pangkalan militer Amerika di berbagai belahan dunia—sekitar 750 titik, dari Timur Tengah hingga Asia—yang dinilainya bukan demi perdamaian, melainkan pengamanan kepentingan geopolitik.

China: Negara yang Tak Bisa Ditekan

Di tengah peta global yang bergejolak itu, Prof Sutan menunjuk satu negara yang berdiri seperti gunung di tengah badai: China.

“Satu-satunya negara yang tidak bisa ditekan dan diganggu oleh Paman Sam adalah China,” katanya.

China, menurut Prof Sutan, tidak membutuhkan demokrasi liberal untuk menjadi besar. Selama ribuan tahun, sejarah membuktikan bahwa kerajaan dan negara dengan sistem komunis mampu bertahan, berkembang, dan tidak pernah dijajah.

Ia menegaskan, China tampil sebagai raksasa industri, teknologi, dan militer—tanpa menjajah siapa pun, tanpa menjadi boneka negara mana pun.

“China tidak menghabiskan uang rakyat ratusan triliun hanya untuk pesta demokrasi. Mereka memilih revolusi ekonomi dan sosial. Dan itu berhasil,” ujarnya.

Kalimat yang paling menggetarkan datang ketika Prof Sutan mengutip semangat China kepada rakyatnya:

“Kalau tidak mau jadi budak dunia, belajarlah berdiri di atas kaki sendiri.”

Islam, Kerajaan, dan Pelajaran dari Timur Tengah

Menariknya, Prof Sutan tidak berhenti pada China. Ia menarik garis sejarah jauh ke belakang—ke Timur Tengah seribu tahun silam, ketika kerajaan-kerajaan Islam berdiri sebagai pusat ilmu, perdagangan, dan kemakmuran dunia.

“Mereka melemah bukan karena Islam, tapi karena propaganda modernisasi dan demokrasi yang memecah belah,” katanya.

Negara-negara yang terbawa arus demokrasi, menurutnya, justru terjerumus menjadi lemah, miskin, dan dikuasai utang—hingga akhirnya dilanda perang saudara.

Sebaliknya, negara-negara kerajaan—termasuk kerajaan Islam di Timur Tengah—yang tidak mengadopsi demokrasi liberal justru stabil, kaya, dan tidak pernah dijajah.

Sunda Nusantara dan Ingatan yang Hilang

Di ujung pernyataannya, Prof Sutan membawa refleksi itu pulang ke Indonesia.

“Sebelum era penjajahan, Kerajaan Sunda Nusantara telah menjawab bahwa nenek moyang kita pernah menjadi kekuatan besar dunia,” katanya.

Kerajaan-kerajaan Nusantara, menurutnya, tidak tunduk pada paradoks modernisasi Barat. Mereka membangun peradaban sendiri—maju di masanya, berdaulat dalam pikirannya.

Pertanyaan pun menggantung di udara:

Apakah kita hari ini sedang melangkah maju—atau justru berjalan menjauh dari jati diri sejarah kita sendiri?

Sejarah Tidak Pernah Bohong

Menutup pernyataannya, Prof Sutan Nasomal meninggalkan pesan sederhana namun menghantam kesadaran:

“Sejarah tidak pernah bohong. Yang sering lupa adalah manusianya.”

Di tengah dunia yang terus berisik oleh slogan dan ideologi, barangkali suara yang paling jujur justru datang dari sejarah—yang menuntut kita untuk berhenti berteriak, dan mulai belajar.

Narasumber:
Prof. Dr. KH. Sutan Nasomal, S.H, M.H
Pakar Hukum Internasional & Ekonom Nasional

Catatan: Sejarah jangan dilupakan.

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *