JAKARTA |BELUPOS.Com– Deretan kendaraan yang mengular di berbagai stasiun pengisian bahan bakar minyak (SPBU) kini menjadi pemandangan yang kian akrab di sejumlah daerah. Di bawah terik matahari, masyarakat harus bersabar menunggu hingga berjam-jam demi mendapatkan BBM. Situasi ini memunculkan kegelisahan baru di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan banyak kalangan.
Pakar Hukum Internasional dan Ekonom Nasional, Prof. Dr. Sutan Nasomal, SH, MH, menilai fenomena antrean panjang BBM tidak hanya mencerminkan persoalan distribusi energi, tetapi juga menghadirkan keresahan sosial yang perlu segera diantisipasi pemerintah.
Dalam keterangannya kepada sejumlah media cetak dan online dari dalam maupun luar negeri pada Jumat (12/6/2026), Prof Sutan menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi yang terjadi di lapangan.
“Masyarakat jangan sampai hidup dalam ketakutan akan kelangkaan BBM. Pemerintah perlu mengantisipasi keresahan yang tumbuh di hati rakyat. Negara yang dikenal kaya sumber daya alam seperti emas, nikel, dan minyak bumi seharusnya mampu menjamin ketersediaan energi bagi masyarakatnya,” ujar Prof Sutan.
Menurutnya, polemik kenaikan harga BBM yang terjadi belakangan ini semakin diperberat dengan munculnya antrean panjang di berbagai SPBU. Warga yang tidak mampu membeli BBM dengan harga lebih tinggi terpaksa menghabiskan waktu berjam-jam dalam antrean demi memperoleh bahan bakar yang mereka butuhkan.
Bagi pengendara roda dua, kondisi tersebut menjadi beban tersendiri. Selain kehilangan waktu produktif, mereka juga harus menghadapi kelelahan fisik akibat berdiri atau duduk berjam-jam di bawah panas matahari.
Prof Sutan menilai dampak terbesar dari situasi ini adalah terganggunya aktivitas masyarakat sehari-hari. Banyak warga terlambat bekerja, terlambat menjalankan usaha, hingga kehilangan kesempatan ekonomi karena terjebak dalam antrean panjang.
“Waktu adalah aset yang tidak bisa dikembalikan. Ketika masyarakat harus menghabiskan satu hingga dua jam hanya untuk mendapatkan BBM, maka produktivitas bangsa ikut terkuras,” katanya.
Karena itu, ia mengimbau pemerintah untuk memastikan ketersediaan stok BBM tetap aman dan terjamin di seluruh wilayah Indonesia agar kepanikan masyarakat tidak semakin meluas.
Selain persoalan energi, Prof Sutan juga menyoroti dampak lanjutan yang dirasakan masyarakat akibat kenaikan harga BBM. Menurutnya, peningkatan biaya transportasi telah memengaruhi harga berbagai kebutuhan pokok sehingga semakin membebani ekonomi rumah tangga.
Ia berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah memperluas program pasar murah guna menjaga daya beli masyarakat dan memastikan kebutuhan pokok tetap dapat dijangkau oleh kelompok berpenghasilan rendah.
“Pasar murah adalah harapan masyarakat saat ini. Kehadiran negara harus benar-benar dirasakan rakyat ketika harga kebutuhan hidup terus mengalami tekanan,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof Sutan juga mengingatkan pentingnya perhatian pemerintah terhadap kelompok rentan, khususnya lanjut usia (lansia) dan anak-anak yatim yang berada di berbagai pelosok daerah.
Menurutnya, banyak lansia yang sudah tidak lagi produktif dan tidak memiliki penghasilan tetap sehingga membutuhkan bantuan sosial yang memadai. Demikian pula anak-anak yatim yang memerlukan perhatian dan perlindungan agar dapat menjalani kehidupan dengan layak.
“Jangan sampai ada lansia yang kelaparan dan anak-anak yatim yang terabaikan. Mereka adalah bagian dari tanggung jawab moral bangsa yang harus dijaga bersama,” pungkasnya.
Narasumber: Prof. Dr. Sutan Nasomal, S.H, M.H, Pakar Hukum Internasional, Ekonom Nasional, Presiden Partai Oposisi Merdeka, Ketua Umum Perkumpulan Advokat Muda Indonesia, serta Pengasuh Ponpes Ass Saqwa Plus.















