banner 728x250

Dunia Bertumbuh FPPA Atambua Rayakan Hari Perempuan Internasional dengan Sosialisasi Pencegahan Human Trafficking

ATAMBUA | BELUPOS.Com — Jumat Pagi 6 Maret 2026 di Atambua tidak sekadar menjadi pertemuan biasa. Di sebuah ruang diskusi yang dipenuhi semangat solidaritas, suara-suara kepedulian berkumpul untuk satu tujuan: menjaga martabat perempuan dan anak dari ancaman perdagangan manusia.

Momentum itu hadir dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional (8 Maret) yang tahun ini mengusung tema global “Give To Gain” — memberi untuk memperoleh. Sebuah gagasan sederhana namun kuat: ketika seseorang memberi dukungan, kesempatan bagi perempuan untuk bertumbuh akan semakin luas.

Lebih dari satu abad sejak peringatan pertama pada tahun 1911 yang didukung lebih dari satu juta orang di berbagai negara, Hari Perempuan Internasional terus menjadi panggung kolektif untuk merayakan pencapaian perempuan sekaligus menyerukan percepatan kesetaraan gender.

Di Atambua, semangat itu diterjemahkan secara konkret oleh Forum Peduli Perempuan dan Anak (FPPA) Atambua melalui kegiatan Sosialisasi Pencegahan Human Trafficking Berbasis Gender Transformatif Approach, yang diselenggarakan bekerja sama dengan Program Studi Keperawatan Universitas Timor.

Kegiatan ini digelar pada 6 Maret 2026, dua hari lebih awal, mengingat tanggal 8 Maret tahun ini jatuh pada hari Minggu.

Acara dibuka oleh Ketua Program Studi Keperawatan Universitas Timor, Melkianus Ratu, S.KM., M.HID, yang menegaskan pentingnya membangun kesadaran kolektif untuk melindungi perempuan dari berbagai bentuk eksploitasi.

Di dalam forum tersebut, lima narasumber hadir membawa perspektif yang berbeda namun saling melengkapi.

Sr. Sesilia SSpS membuka diskusi dengan pemaparan tentang Human Trafficking, menyoroti berbagai modus perdagangan manusia yang kerap menyasar perempuan dan anak.
Dilanjutkan Serafina Leon dari WKRI yang mengajak peserta meneguhkan nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas dalam kehidupan sosial.

Persoalan kemiskinan sebagai akar kerentanan juga dibahas oleh Yovita Bete bersama Sr. Sesilia SSpS, sementara Theresia Saik dari FPPA menjelaskan dinamika imigrasi dan berbagai risiko yang menyertainya.

Sesi ditutup oleh Dina dari FPPA dengan materi “Saring Sebelum Sharing”, sebuah ajakan kritis untuk bijak menggunakan media sosial agar tidak ikut menyebarkan informasi yang dapat membahayakan perempuan dan anak.

Di balik jalannya kegiatan ini, panitia bekerja dengan dedikasi yang sunyi namun penuh makna:
Yulita Bauk, S.IP; Dona Pareira Px; Sarlince Novita Nahak; dan Oktaviani Vasconcelos.

Di tengah diskusi yang hangat dan reflektif, pesan utama Hari Perempuan Internasional kembali ditegaskan.

╔════════════════════════════════╗
“Give To Gain bukan sekadar slogan.
Ketika individu, komunitas, dan organisasi memberi dengan tulus—
pengetahuan, waktu, dukungan, atau keberanian—
peluang bagi perempuan untuk tumbuh akan berlipat ganda.
Ketika perempuan berkembang, dunia ikut bergerak maju.”

╚════════════════════════════════╝

Gerakan Give To Gain sendiri mendorong pola pikir kemurahan hati dan kolaborasi. Memberi tidak dipandang sebagai kehilangan, melainkan sebagai investasi kemanusiaan yang menciptakan efek domino bagi masyarakat yang lebih adil dan saling terhubung.

Dalam konteks wilayah perbatasan seperti Belu, isu perdagangan manusia bukan sekadar wacana global, tetapi realitas yang terus mengintai. Kemiskinan, migrasi tenaga kerja, serta keterbatasan informasi sering kali menjadi celah yang dimanfaatkan jaringan perdagangan manusia. Karena itu, pendekatan berbasis kesadaran komunitas—seperti yang dilakukan FPPA—menjadi langkah strategis untuk membangun benteng sosial dari tingkat akar rumput.

Hari Perempuan Internasional pada akhirnya bukan hanya peringatan simbolik. Ia adalah undangan untuk bertindak.

Memberi perhatian.
Memberi perlindungan.
Memberi kesempatan.

Sebab ketika perempuan berdiri tegak dalam martabatnya, bukan hanya mereka yang maju—melainkan seluruh peradaban yang ikut melangkah lebih manusiawi.

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *