ATAMBUA | BELUPOS.com — Ada kesunyian yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ia tinggal di Jurang Sabanese, tempat terakhir Fransiskus Xaverius Asten ditemukan. Dan sejak hari itu, kesunyian itu berpindah—ke hati keluarga yang masih menunggu jawaban.
Selasa (17/3/2026), Polres Belu membuka ruang audiensi. Bukan sekadar pertemuan formal, tetapi perjumpaan antara penjelasan hukum dan harapan yang belum usai.
Kapolres Belu, AKBP I Gede Eka Putra Astawa, bersama jajaran Satreskrim menjelaskan perjalanan panjang penyelidikan: dari olah tempat kejadian perkara, autopsi, pemeriksaan 16 saksi, hingga analisis teknologi seperti CCTV dan Call Detail Record.
Semua telah ditempuh. Bahkan dua kali gelar perkara telah dilakukan.
Namun, hasilnya masih menggantung: belum ditemukan unsur pidana.
Di tengah penjelasan itu, keluarga korban mendengarkan dengan tenang—namun tidak sepenuhnya lega. Mereka berharap ada celah lain yang bisa dibuka, termasuk menelusuri informasi yang beredar di media sosial.
Kapolres Belu menegaskan komitmen institusinya.
╔══════════════════════════════════════════╗
“Kami bekerja berdasarkan fakta dan secara transparan. Kami terbuka untuk masyarakat yang ingin mengetahui perkembangan penyelidikan.”
╚══════════════════════════════════════════╝
Namun bagi keluarga, waktu telah berjalan terlalu lama.
Sehari sebelumnya, mereka mendatangi Polda NTT. Maxi Mura dan keluarga menyampaikan harapan agar ada perhatian lebih terhadap kasus ini.
╔══════════════════════════════════════════╗
“Kami hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sudah hampir lima bulan kami menunggu kepastian,” ungkap Maxi Mura.
╚══════════════════════════════════════════╝
Polda NTT melalui Irwasda, Kombes Pol Enriko Sugiharto Silalahi, memberi ruang pengaduan dan membuka kemungkinan pendampingan penyelidikan.
Analisis:
Dalam banyak kasus, kebenaran hukum tidak selalu berjalan seiring dengan rasa keadilan keluarga. Ketika proses sudah dilakukan secara prosedural namun belum menghasilkan kepastian, maka yang dibutuhkan bukan hanya kerja ilmiah—tetapi juga empati, komunikasi, dan percepatan yang meyakinkan.
Kini, kasus ini masih berada di persimpangan antara prosedur dan harapan.
Dan di balik semua itu, ada satu hal yang tetap bertahan: sebuah keluarga yang terus menunggu, dengan keyakinan sederhana bahwa setiap kematian berhak atas kebenaran.















