banner 728x250

Di Balik Seragam dan Senjata, Doa Menemukan Rumahnya

Peresmian Pura Buana Wisaka Karinding di Polres Sumba Timur

WAINGAPU | BELUPOS.Com —
Pada pagi yang hening di Karinding, ketika matahari Sumba perlahan naik dari ufuk timur, suara doa mengalun lembut di antara tembok-tembok institusi negara. Di tempat yang lazim dikenal dengan disiplin, aturan, dan ketegasan hukum, hari itu justru lahir sebuah penanda sunyi tentang kemanusiaan: Pura Buana Wisaka Karinding di lingkungan Polres Sumba Timur resmi dimelaspas, Sabtu, 3 Januari 2026.

Upacara peresmian itu bukan sekadar agenda seremonial. Ia adalah peristiwa batin. Sebuah perjumpaan antara iman, negara, dan kebhinekaan yang selama ini hidup diam-diam, namun hari itu diberi ruang untuk bernapas.

Mewakili Bupati Sumba Timur, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sumba Timur, Imanuel Takandjanji, S.E., hadir membawa pesan pemerintah daerah: bahwa toleransi bukan jargon, melainkan praktik nyata yang perlu dirawat dengan tindakan.

“Negara yang kuat bukan hanya berdiri pada hukum dan kewenangan, tetapi pada penghormatan terhadap keyakinan warganya,” demikian pesan yang tersirat dalam kehadiran pemerintah di tengah prosesi sakral tersebut.

Pura di Jantung Institusi Negara

Pura Buana Wisaka Karinding berdiri di kawasan Polres Sumba Timur—sebuah ruang yang sehari-hari identik dengan penegakan hukum. Namun kehadiran pura ini mengingatkan kita bahwa hukum tanpa spiritualitas bisa kering, dan kekuatan tanpa nilai batin bisa kehilangan arah.

Diselenggarakan oleh Paguyuban Suka Duka Bali Polres Sumba Timur, peresmian ini menjadi penanda bahwa umat Hindu di lingkungan kepolisian tidak sekadar “diterima”, tetapi dihormati. Pura ini bukan hanya tempat sembahyang, melainkan rumah batin bagi personel yang menjalankan tugas negara dengan latar keyakinan yang beragam.

“Di sini, doa berdiri sejajar dengan tugas. Spiritualitas berjalan berdampingan dengan pengabdian,” ujar seorang peserta upacara dengan mata yang berkaca-kaca.

Ruang Sunyi yang Menumbuhkan Etika

Pemerintah Kabupaten Sumba Timur menyambut peresmian ini sebagai simbol nyata kerukunan antarumat beragama. Lebih dari itu, pura ini dipandang sebagai ruang pembentukan karakter—tempat nilai moral, etika, dan kedamaian tumbuh dari kesadaran spiritual.

Di tengah dunia yang kerap gaduh oleh perbedaan, kehadiran pura di lingkungan Polres menjadi pengingat bahwa toleransi tidak selalu perlu panggung besar. Ia bisa tumbuh dari halaman kecil, dari ruang ibadah yang sunyi, dari penghormatan yang tulus.

Sumba Timur dan Bahasa Toleransi

Sumba Timur kembali berbicara dengan bahasanya sendiri—bahasa persaudaraan. Di tanah yang kaya tradisi dan spiritualitas, peresmian Pura Buana Wisaka Karinding menjadi cermin bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan moral.

“Ketika tempat ibadah diberi ruang, maka kemanusiaan menemukan jalannya,” begitu pesan yang mengendap dari Karinding hari itu.

Pura ini kini berdiri bukan hanya sebagai bangunan suci, tetapi sebagai penanda zaman: bahwa di balik seragam dan senjata, aparat negara tetap manusia—yang membutuhkan doa, keheningan, dan hubungan dengan Yang Maha Kuasa.

Di Karinding, negara belajar menundukkan kepala.
Di Karinding, hukum bersalaman dengan iman.
Dan di Karinding, toleransi tidak diajarkan—tetapi dihidupi.

 

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *