banner 728x250

Di Atas Tanah Polemik, Koperasi Merah Putih Ditegakkan

MEx KUD Nela Resmi Diizinkan Jadi Rumah Baru KMP Naekasa

ATAMBUA, |BELUPOS.Com — Di atas sebidang tanah seluas 30 x 30 meter, yang lama terdiam dalam sunyi aktivitas, kini harapan baru sedang dipancang. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur memberi izin pemanfaatan areal eks KUD Nela untuk pembangunan Koperasi Merah Putih (KMP) Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu.

Keputusan itu bukan sekadar administrasi. Ia lahir dari polemik panjang—tentang batas hutan jati Nenuk, tentang status lahan, tentang masa depan ekonomi desa.

Asisten I Sekda Belu, Drs. Nikolaus Ubu K. Birri, M.M, menegaskan, izin telah jelas. Lokasi yang dimaksud bukan kawasan hutan aktif, melainkan areal eks koperasi yang sudah lama tidak berfungsi.

╔════════════════════════════════╗
“Kalau koperasi tidak melaksanakan RAT tiga kali berturut-turut,
maka sesuai regulasi dianggap bubar.”
Nikolaus Ubu K. Birri
╚════════════════════════════════╝

Pernyataan itu merujuk pada ketentuan dalam tentang Perkoperasian, yang menegaskan kewajiban Rapat Anggota Tahunan (RAT) sebagai ruh organisasi koperasi. Tanpa RAT, koperasi kehilangan legitimasi hidupnya.

Gedung KUD Nela, yang dulu menjadi simpul ekonomi warga, telah lama sunyi. Tidak ada lagi transaksi, tidak ada laporan tahunan, tidak ada denyut organisasi. Yang tersisa hanyalah bangunan dan kenangan.

Kini, pemerintah kabupaten melandasi kebijakan itu dengan surat dukungan hasil musyawarah Desa Naekasa, Badan Permusyawaratan Desa, dan tokoh masyarakat. Legitimasi sosial pun telah dibangun.

Dari Polemik ke Produktivitas

Ketua Koperasi Merah Putih Desa Naekasa, Alfred Manehat, menyambut keputusan tersebut dengan nada optimistis. Baginya, pembangunan ini bukan tentang menang atau kalah dalam perdebatan, melainkan tentang langkah bersama menuju kesejahteraan.

╔════════════════════════════════╗
“Dunia sekarang bukan dunia polemik,
tapi dunia kerja.”
Alfred Manehat
╚════════════════════════════════╝

Kalimat itu meluncur sederhana, tetapi mengandung makna mendalam: desa tak boleh tertinggal hanya karena silang pendapat berkepanjangan.

Rumah Ekonomi Baru

KMP Naekasa dirancang menjadi simpul baru aktivitas ekonomi desa—wadah simpan pinjam, distribusi hasil tani, hingga penguatan usaha mikro warga. Di wilayah perbatasan seperti Belu, koperasi bukan sekadar badan usaha; ia adalah jangkar kemandirian.

Pemerintah berharap semua pihak berlapang dada. Polemik lokasi yang sempat dikaitkan dengan kawasan hutan jati Nenuk kini telah dijawab dengan kepastian administratif dan dukungan masyarakat.

Di atas tanah 30 x 30 meter itu, bukan hanya bangunan yang akan berdiri. Di sana akan tumbuh kepercayaan. Akan dibangun kembali keyakinan bahwa desa bisa bergerak dengan kekuatannya sendiri.

Dan mungkin, suatu hari nanti, anak-anak Naekasa akan menyebut tempat itu bukan lagi sebagai “eks KUD yang mati”, melainkan sebagai rumah ekonomi yang lahir dari keberanian mengambil keputusan.

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *