banner 728x250

Dari Ruang Kerja Bupati, Sembilan Nahkoda Desa Resmi Berlayar

Willybrodus Lay Titip Amanah Perubahan, Pelayanan, dan Tabungan Masa Depan Bernama Sengon

ATAMBUA | BELUPOS.COM — Ruang Kerja Bupati Belu, Rabu (11/02/2026), menjadi saksi lahirnya sembilan kepemimpinan baru di tingkat desa. Tak ada riuh berlebihan. Hanya suasana khidmat saat Bupati Belu, Willybrodus Lay, SH, mengambil sumpah dan melantik sembilan Penjabat (Pj) Kepala Desa.

Di ruang itu, bukan sekadar nama-nama yang dipanggil. Tetapi amanah yang disematkan. Tanggung jawab yang dipikul. Dan harapan masyarakat yang dititipkan.

Adapun sembilan Penjabat Kepala Desa yang dilantik yakni:

  • Elias Yunus Tes Mali, SH sebagai Pj Desa Manleten
  • Rotario De Purificacao sebagai Pj Desa Dafala
  • Antonio Gonzaga sebagai Pj Desa Bauho
  • Yanuarius Bone, S.IP sebagai Pj Desa Naekasa
  • Laurensius Djonson Loo, S.Sos sebagai Pj Desa Rinbesihat
  • Don Johanes Servus DVG, ST sebagai Pj Desa Dualasi Raiulun
  • Fransiskus Arnoldus Lau sebagai Pj Desa Fatulotu
  • Damianus Paskalis Bere, ST sebagai Pj Desa Maudemu
  • Thomas Sabu, SST sebagai Pj Desa Persiapan Raidikur

Usai prosesi pelantikan, Bupati Willy Lay menyampaikan pesan yang tegas namun penuh harapan. Ia menyebut para penjabat yang dilantik sebagai figur-figur pilihan yang dipercaya untuk membawa desa ke arah yang lebih baik.

“Sembilan Penjabat Kepala Desa yang dilantik hari ini adalah orang-orang pilihan yang dipercayakan untuk membangun desa menjadi lebih baik ke depan,” ujar Bupati Willy Lay.

Kalimat itu bukan sekadar formalitas seremoni. Ia adalah penegasan bahwa jabatan bukan simbol, melainkan mandat perubahan.

Desa sebagai Ujung Tombak Pemerintahan

Bupati menegaskan, para Penjabat Kepala Desa harus mampu menerjemahkan program pemerintah secara konkret di tingkat paling bawah.

“Para Penjabat Kepala Desa harus mampu melaksanakan program pemerintah.”

Di desa-lah kebijakan diuji. Di desa-lah program dirasakan langsung. Maka, kepemimpinan desa bukan hanya administratif, tetapi strategis.

Ia juga mengingatkan pentingnya membaca potensi desa. Setiap desa memiliki kekuatan—baik sumber daya alam, sosial, maupun budaya—yang harus dikelola dengan bijak.

“Perhatikan potensi desa dan layani masyarakat dengan baik, karena masyarakat menilai kinerja kita setiap saat.”

Pesan itu sederhana, tetapi mengandung makna mendalam: kepercayaan publik dibangun dari pelayanan sehari-hari.

Sengon dan Porang: Investasi dari Tanah Sendiri

Menariknya, dalam sambutan tersebut Bupati Willy Lay turut menitipkan gagasan ekonomi jangka panjang yang berbasis pada kekuatan lokal.

“Tanam sengon karena ini merupakan tabungan masa depan. Di bawah pohon sengon juga bisa ditanam porang untuk menambah penghasilan masyarakat.”

Sengon disebut sebagai tabungan masa depan. Sebuah metafora yang menempatkan pohon bukan hanya sebagai tanaman, tetapi sebagai investasi. Dan di bawah naungannya, porang menjadi simbol diversifikasi ekonomi desa.

Gagasan ini memperlihatkan bahwa pembangunan desa tak selalu harus dimulai dari proyek besar, tetapi bisa dari tanah yang ditanami dan dirawat bersama.

Amanah yang Akan Dinilai Waktu

Pelantikan hari itu memang berlangsung singkat. Namun dampaknya akan diuji oleh waktu dan kerja nyata.

Sembilan penjabat itu kini memikul harapan masyarakatnya masing-masing. Dari Manleten hingga Desa Persiapan Raidikur, mereka menjadi wajah pertama pemerintah yang ditemui warga ketika ada persoalan.

Di ruang kerja itu, sumpah telah diucapkan. Tanda tangan telah dibubuhkan.

Kini, yang tersisa adalah pembuktian—bahwa kepemimpinan di desa bukan sekadar jabatan sementara, melainkan pengabdian yang harus terasa.

Dan masyarakat, seperti yang diingatkan Bupati, akan selalu menilai.

banner 325x300
Penulis: Redaksi BeluposEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *