Di Motamasin, Satgas Yonarmed 12 Kostrad Menjadi Penjaga Kemanusiaan Warga Perbatasan
MALAKA |BELUPOS.Com —
Malam di perbatasan RI–RDTL biasanya sunyi. Angin berembus pelan dari arah laut, sementara pos-pos penjagaan berdiri waspada menjaga garis negara. Namun Sabtu malam, 17 Januari 2026, sunyi itu pecah oleh sebuah permohonan sederhana—dan sangat mendesak.
Seorang warga Desa Litamali, Kecamatan Kobalima, Edi S., melangkah tergesa menuju Kompi 3 Motamasin Satgas Pamtas RI–RDTL Yonarmed 12 Kostrad di Desa Alas Selatan. Ia tidak membawa senjata, tidak pula membawa urusan keamanan. Ia membawa harapan hidup.
Istrinya, Vindelda Bere Manek, tengah berjuang melawan anemia akut—kekurangan hemoglobin yang membuat tubuh kehilangan daya, napas tersengal, dan nyawa berada di batas rapuh. Golongan darah A dibutuhkan segera.
Di perbatasan, waktu bukan sekadar menit.
Ia adalah penentu hidup dan mati.
Keputusan Tanpa Ragu di Tengah Malam
Tanpa menunggu prosedur panjang, Komandan Kompi (Danki) 3 Motamasin, Kapten Arm Rosy Pujiantoro, mengambil keputusan cepat. Ia memahami bahwa di daerah terpencil, keterlambatan sekecil apa pun bisa berakibat fatal.
Beberapa personel segera diutus:
Letda Arm Pijar Andarma Jaya, S.Tr.(Han) (Danpos Fatuha),
Pelda Anang Yuliawan (Danpos Haslot),
Praka Muslimin Takes, dan
Serda Muhammad Abdul Rahman (Wadanpos Auren).
Mereka tidak membawa perlengkapan tempur.
Mereka membawa darah—secara harfiah.
Donor dilakukan hingga Minggu pagi, 18 Januari 2026, di RSUPP Betun, di bawah pengawasan petugas laboratorium rumah sakit. Proses transfusi berjalan lancar. Darah mengalir. Harapan kembali berdenyut.
Ketika Seragam Menjadi Simbol Kepedulian
Bagi Edi S., peristiwa itu bukan sekadar bantuan medis. Ia adalah pengalaman kemanusiaan yang tak akan dilupakan seumur hidup.
“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Danki 3 Motamasin Kapten Arm Rosy Pujiantoro dan seluruh jajaran. Mereka telah menyelamatkan nyawa istri saya. Semoga selalu sukses dalam menjalankan tugas,”
(Edi S., warga Desa Litamali)
Di wajah warga perbatasan, TNI bukan hanya penjaga garis negara. Mereka adalah tetangga yang datang saat paling dibutuhkan.
Refleksi Kesehatan di Ujung Negeri
Kasus Vindelda Bere Manek adalah potret nyata tantangan layanan kesehatan di wilayah perbatasan. Akses terbatas, jarak jauh, dan minimnya fasilitas membuat kondisi seperti anemia—yang di kota besar mungkin mudah ditangani—menjadi ancaman serius.
Di sinilah kehadiran TNI menemukan makna sosialnya.
“Kami berharap ibu Vindelda lekas sembuh. Satgas Yonarmed 12 Kostrad berkomitmen untuk selalu hadir membantu kesulitan masyarakat. TNI bukan hanya menjaga kedaulatan, tetapi juga menjadi sahabat dan pelayan rakyat,”
(Kapten Arm Rosy Pujiantoro, Danki 3 Motamasin)
Tindakan donor darah ini bukan perintah operasi.
Ia lahir dari nurani.
Pelajaran dari Setetes Darah
Peristiwa di Motamasin mengajarkan satu hal penting bagi publik:
bahwa kesehatan adalah urusan bersama, dan solidaritas bisa datang dari siapa saja—bahkan dari mereka yang sehari-hari memanggul senjata.
Di daerah terpencil, kolaborasi antara masyarakat, tenaga kesehatan, dan aparat negara sering kali menjadi satu-satunya benteng kemanusiaan.
Dan malam itu, di perbatasan RI–RDTL, benteng itu berdiri kokoh—dengan darah, empati, dan keberanian untuk peduli.















