ATAMBUA |BELUPOS.Com) — Di bawah terik matahari perbatasan, sekop bergantian menembus adonan pasir dan semen. Suara tawa pecah di antara debu dan peluh. Di tengah keramaian itu, seorang prajurit berseragam loreng tampak larut dalam kebersamaan.
Ia adalah Sertu Lourenco Da Conceicao, Babinsa Desa Manleten, Koramil 1605-07/Wedomu, yang hari itu turun tangan membantu warga membangun rumah sederhana milik keluarga di Dusun Aitaman, Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur.
Bagi Sertu Lourenco, campuran semen bukan hanya bahan bangunan. Ia adalah perekat kebersamaan, penguat simpul antara TNI dan rakyat.
“Membantu membangun rumah warga ini adalah bagian dari tugas kami. Tetapi lebih dari itu, ini cara kami menjaga kebersamaan, merasakan suka duka bersama masyarakat di wilayah binaan,” ucapnya sambil tersenyum, tangan masih belepotan semen.
Di sekelilingnya, warga terlihat bahu-membahu. Ada yang mengangkat batu, ada yang mengisi ember air, ada pula yang menata bata. Kehadiran Babinsa di tengah mereka bukan lagi sekadar simbol tugas, melainkan bagian dari keluarga besar yang menyatu dalam ritme gotong royong.
Kegiatan sederhana ini memancarkan pesan kuat: TNI hadir tidak hanya saat negara diguncang ancaman, tetapi juga ketika rakyat memerlukan uluran tangan dalam kehidupan sehari-hari. “Kerja bakti ini untuk meringankan beban masyarakat, sekaligus membangun rasa kekeluargaan. Harapan kami, keberadaan TNI di tengah masyarakat benar-benar dirasakan positif,” tutur Sertu Lourenco dengan nada penuh ketulusan.
Di ujung hari, rumah itu mungkin belum rampung. Namun, pondasi kebersamaan sudah lebih dulu kokoh tertanam. Dari campuran semen dan keringat, lahirlah cerita sederhana tentang prajurit yang merawat kedekatan di garis batas negeri.















