banner 728x250

Ketua PGRI Belu Mengingatkan: Pancasila Jangan Hanya Dihafal, Tetapi Dihidupi

ATAMBUA |BELUPOS.Com– Menjelang fajar 1 Juni 2026, ketika bangsa Indonesia kembali menapaki usia ke-81 Hari Lahir Pancasila, ruang batin kebangsaan seakan diajak berhenti sejenak untuk berkaca. Di tengah derasnya arus perubahan zaman, kemajuan teknologi, serta berbagai tantangan sosial yang terus menguji persatuan bangsa, Pancasila kembali dipanggil bukan sekadar sebagai dokumen sejarah, melainkan sebagai cahaya penuntun perjalanan Indonesia.

Dari Kota Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Perbatasan Timor Leste, Ketua PGRI Belu, Yanuarius Antonius Wadan Talok, S.Pd, menyampaikan pesan reflektif kepada masyarakat menjelang peringatan Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada Senin, 1 Juni 2026.

Ia mengawali pesannya dengan menyampaikan penghormatan mendalam kepada para tokoh yang telah meletakkan fondasi ideologis bangsa Indonesia.

╔══════════════════════════════════════╗ ║ “Kita memberikan doa dan apresiasi ║ ║ setinggi-tingginya kepada tiga ║ ║ pencetus utama gagasan dasar negara, ║ ║ yaitu Mohammad Yamin, Soepomo dan ║ ║ Ir. Soekarno. Juga kepada Tim 9 ║ ║ yang menyelaraskan serta ║ ║ memfinalisasi konsepsi Pancasila.” ║ ╚══════════════════════════════════════╝

Menurutnya, tanpa gagasan dan perjuangan para pendiri bangsa tersebut, Indonesia mungkin tidak memiliki fondasi kebangsaan yang kokoh seperti saat ini. Ia juga mengajak masyarakat untuk bersyukur atas diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 yang menetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila dan diperingati setiap tahun.

Lebih jauh, Yanuarius mengingatkan bahwa Pancasila tidak boleh berhenti sebagai hafalan yang diucapkan saat upacara atau terpajang di dinding ruang kelas. Nilai-nilai yang terkandung di dalam lima sila harus hidup dan berdenyut dalam tindakan nyata seluruh warga negara.

╔══════════════════════════════════════╗ ║ “Ada fenomena bahwa murid-murid ║ ║ sekolah hampir setiap hari belajar ║ ║ dan berakrab dengan Pancasila di ║ ║ ruang kelas. Namun sesungguhnya, ║ ║ bukan hanya murid yang harus terus ║ ║ menggemakan Pancasila. Seluruh ║ ║ masyarakat juga harus ║ ║ melaksanakannya dalam kehidupan ║ ║ sehari-hari.” ║ ╚══════════════════════════════════════╝

Ia menegaskan, tugas menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila bukan hanya menjadi tanggung jawab guru dan sekolah, melainkan tanggung jawab seluruh anak bangsa. Para pemimpin di setiap tingkatan juga harus menjadi teladan dengan menghadirkan kebijakan yang mencerminkan semangat Pancasila, mulai dari sila pertama hingga sila kelima.

Menurutnya, kehidupan beragama yang harmonis, toleransi, kolaborasi sosial, pemerataan pembangunan, pendidikan, kesehatan, keamanan, hingga kesejahteraan masyarakat merupakan bentuk nyata pengamalan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua PGRI Belu, Yanuarius juga memberikan pesan khusus kepada para guru agar terus menjadi garda terdepan dalam membangun karakter generasi muda Indonesia.

╔══════════════════════════════════════╗ ║ “Melalui kurikulum yang ada, guru ║ ║ harus menjadi contoh penerapan ║ ║ nilai-nilai Pancasila. Karakter ║ ║ murid dibangun melalui delapan ║ ║ dimensi profil lulusan, yaitu ║ ║ keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan, ║ ║ kewargaan, penalaran kritis, ║ ║ kreativitas, kolaborasi, ║ ║ kemandirian, kesehatan, dan ║ ║ komunikasi.” ║ ╚══════════════════════════════════════╝

Ia menjelaskan bahwa pembentukan karakter tidak lagi hanya diukur melalui penilaian tertulis konvensional, tetapi terintegrasi dalam seluruh ekosistem sekolah melalui pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning. Dengan karakter yang kuat, pengetahuan yang baik, dan keterampilan yang memadai, para murid diharapkan mampu menghadapi tantangan masa depan yang semakin kompleks dan kompetitif.

Secara kontekstual, pesan Ketua PGRI Belu hadir pada momentum yang relevan. Di tengah berbagai persoalan bangsa seperti korupsi, kesenjangan sosial, intoleransi, hingga tantangan kualitas pendidikan dan kesehatan, Pancasila kembali menemukan urgensinya sebagai kompas moral dan arah pembangunan nasional. Nilai-nilai yang lahir pada 1 Juni 1945 itu tidak kehilangan relevansi, justru semakin dibutuhkan untuk menjaga keutuhan bangsa yang majemuk di era modern.

Pada bagian akhir pesannya, Yanuarius mengajak seluruh masyarakat untuk menjadi teladan dalam menerapkan nilai-nilai luhur Pancasila secara nyata dan berkelanjutan.

Ia berharap korupsi, diskriminasi, kemiskinan, keterbelakangan, serta berbagai persoalan pembangunan dapat terus ditekan, sementara kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat semakin meningkat.

“Bangsa dan Negara Republik Indonesia harus semakin kokoh. Pemerintah melayani dengan sepenuh hati, pendidikan semakin gemilang, guru semakin sejahtera, murid semakin cerdas, dan rakyat hidup dalam kesejahteraan,” ujarnya.

Pancasila pada akhirnya bukan sekadar warisan para pendiri bangsa yang dikenang setiap 1 Juni. Ia adalah janji yang harus terus diperjuangkan oleh setiap generasi. Sebab selama nilai-nilainya tetap hidup di hati rakyat, Indonesia akan selalu memiliki alasan untuk berdiri tegak, melangkah maju, dan menatap masa depan dengan harapan yang tak pernah padam.

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *