banner 728x250

Ketika Ribuan Rosario Menyala di Teluk Gurita, Doa dari Perbatasan Terbang Untuk Perdamaian Dunia

ATAMBUA |BELUPOS.Com – Malam itu, langit Teluk Gurita seolah sedang berdoa.

Di ufuk barat, sisa cahaya senja perlahan tenggelam ke balik laut. Angin dari Samudera Timor berembus lembut menyentuh wajah para peziarah yang datang dari berbagai penjuru. Di bawah kaki Patung Bunda Maria Pelindung Segala Bangsa, ribuan umat Katolik berkumpul membawa rosario, lilin, dan harapan.

Sabtu malam, 30 Mei 2026, kawasan wisata rohani Teluk Gurita bukan sekadar menjadi tempat berkumpulnya manusia. Ia menjelma menjadi altar raksasa di bawah langit terbuka, tempat ribuan hati bersatu mengirimkan doa bagi dunia.

Dari pelataran hingga puncak bukit tempat Bunda Maria ditakhtakan, ribuan peziarah bergerak perlahan dalam perarakan Rosario. Langkah-langkah mereka membentuk sungai manusia yang mengalir menuju puncak iman.

Mereka datang dari Kabupaten Belu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Kabupaten Malaka, bahkan dari negara tetangga Timor Leste.

Tak ada perbedaan status, jabatan, bahasa, ataupun asal daerah.

Malam itu semua larut dalam satu identitas yang sama: anak-anak yang datang mencari ibunya.

Di antara cahaya lilin yang berkelip seperti bintang-bintang kecil di lereng bukit, doa Salam Maria terdengar bergema.

“Salam Maria, penuh rahmat…”

Kalimat demi kalimat mengalun perlahan, menyusuri udara malam, menembus batas-batas yang tak terlihat, menuju langit yang diyakini menjadi tempat segala doa berlabuh.

Rosario bergerak perlahan di jemari para peziarah. Ada yang menundukkan kepala dalam diam. Ada yang memejamkan mata. Ada pula yang meneteskan air mata tanpa suara.

Mungkin mereka sedang membawa luka.

Mungkin mereka sedang membawa syukur.

Mungkin pula mereka sedang membawa nama seseorang yang ingin mereka doakan.

Dan malam itu, semuanya dipersatukan oleh Bunda Maria.

Ketika tiba saatnya memberikan sambutan, Bupati Belu, Willybrodus Lay, berdiri di hadapan ribuan umat yang memadati kawasan Teluk Gurita.

Suara beliau terdengar tegas, namun sarat keteduhan.

╔══════════════ ❀ ══════════════╗

“Momentum hari ini sangat istimewa karena bertepatan dengan seruan Bapak Paus Leo XIV yang mengajak umat Katolik di seluruh dunia mendoakan perdamaian dunia.”

“Pada malam Ave Maria Night ini, kita umat Katolik Kabupaten Belu, Kabupaten TTU, Kabupaten Malaka dan negara tetangga Timor Leste bersama-sama melakukan doa Rosario untuk perdamaian dunia.”

“Sesuai iman Katolik, Bunda Maria sebagai perantara doa kita akan menyampaikan doa-doa itu kepada Tuhan Yesus Kristus.”

╚══════════════ ❀ ══════════════╝

Kalimat itu disambut hening.

Bukan karena tidak ada jawaban.

Tetapi karena ribuan hati sedang mengamini.

Dalam dunia yang masih dipenuhi perang, pertikaian, kebencian, dan ketidakpastian, malam itu Teluk Gurita menghadirkan wajah lain dari kemanusiaan: wajah orang-orang yang memilih berdoa daripada membenci, memilih memohon damai daripada menyebarkan permusuhan.

Bupati Belu juga menyampaikan terima kasih kepada Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr., yang telah memberikan dukungan penuh sehingga kegiatan Ave Maria Night dapat terlaksana dengan baik.

Ucapan penghargaan yang sama disampaikan kepada para imam, para suster, komunitas Marriage Encounter (ME) Keuskupan Atambua, ASN, panitia, serta seluruh umat yang terlibat.

Malam itu, mereka bukan sekadar penyelenggara kegiatan.

Mereka adalah para penjaga nyala iman.

Salah satu peserta, Maria Goreti N, mengaku sangat terharu mengikuti Ave Maria Night.

Baginya, kegiatan ini menghadirkan sukacita yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

╔══════════════ ❀ ══════════════╗

“Peristiwa hari ini sungguh menggembirakan bagi umat Katolik Keuskupan Atambua.”

“Semoga umat Allah selalu mengikuti teladan Bunda Maria sehingga kehidupan keluarga kita dipenuhi damai sepanjang masa.”

“Kegiatan ini luar biasa. Saya berharap umat Katolik terus datang ke tempat ini untuk berdoa kepada Bunda Maria Segala Bangsa.”

╚══════════════ ❀ ══════════════╝

Secara spiritual, Ave Maria Night memiliki makna yang jauh melampaui sebuah perayaan tahunan.

Ketika ribuan umat dari dua negara berkumpul dalam satu doa, yang sedang dibangun sesungguhnya bukan hanya devosi kepada Bunda Maria, melainkan jembatan persaudaraan lintas batas.

Perbatasan yang selama ini dikenal sebagai garis pemisah, malam itu berubah menjadi ruang perjumpaan.

Indonesia dan Timor Leste tidak lagi dipisahkan pagar negara.

Mereka dipersatukan oleh Rosario.

Mereka dipersatukan oleh doa.

Mereka dipersatukan oleh harapan akan dunia yang damai.

Menjelang akhir acara, dari tengah kerumunan umat terdengar syair yang begitu akrab di hati masyarakat Flores Timur.

Suara itu mengalun perlahan, lembut, dan penuh cinta.

“Ina Maria, beta haksolok…”

“Ina Maria, beta haksolok…”

“Naran diak liu hotu…”

“Maria… Maria…”

Lagu itu melayang bersama angin laut.

Menyentuh bukit.

Menyentuh pepohonan.

Menyentuh hati setiap orang yang hadir.

Seakan menjadi nyanyian seorang anak yang pulang kepada ibunya setelah perjalanan panjang kehidupan.

Dan ketika malam semakin larut, ribuan lilin mulai meredup satu demi satu.

Namun ada cahaya yang tidak ikut padam.

Cahaya itu tinggal di dalam hati para peziarah.

Cahaya yang mengajarkan bahwa dunia mungkin tidak selalu damai, tetapi kedamaian selalu bisa dimulai dari satu doa yang diucapkan dengan tulus.

Dari Teluk Gurita, dari sebuah bukit kecil di perbatasan negeri, ribuan Rosario malam itu terbang menuju langit, membawa satu pesan sederhana yang selalu dibutuhkan dunia:

bahwa kasih masih hidup, dan doa masih mampu mengubah sejarah manusia.

banner 325x300
Penulis: Agustinus BobeEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *