ATAMBUA |BELUPOS.Com— Tepat ketika jarum jam menunjuk pukul 15.00 Wita, saat langit seolah ikut merunduk dalam keheningan, ratusan umat memadati Kapela Serikat Sabda Allah (SVD) Nenuk, Desa Naekasa. Di antara mereka, Bupati Belu, Willybrodus Lay, S.H, hadir tanpa sekat—menjadi bagian dari umat yang tenggelam dalam permenungan Jumat Agung, hari ketika derita menjadi bahasa cinta yang paling sunyi.
Ibadah yang dipimpin oleh Pater Andi Melo, SVD itu mengangkat tema “Derita Kristus adalah Sumber Keselamatan”. Suasana berlangsung khidmat, hampir tanpa suara, kecuali doa-doa yang bergetar pelan dan langkah umat yang mendekat untuk menghormati salib—simbol penderitaan yang sekaligus menjadi tanda kasih yang tak terukur.
Di bawah tenda-tenda tambahan yang dipasang panitia, umat dari Nenuk dan sekitarnya tetap bertahan, seolah tak ingin melewatkan satu detik pun dari momen sakral itu. Hening bukan sekadar suasana, tetapi pengalaman batin yang menyatukan semua dalam refleksi mendalam.
Dalam homilinya, Pater Andi mengajak umat untuk memandang penderitaan dengan cara yang berbeda—bukan sebagai akhir, melainkan sebagai jalan menuju kehidupan.
╔════════════════════════════════════════════╗
“Tiada kebangkitan tanpa kematian. Salib dan sengsara
bukanlah kegagalan yang harus dihindari, melainkan sumber
kekuatan yang membebaskan. Allah telah menjadikan Kristus
sebagai Raja kehidupan, dan setiap orang beriman yang
mengandalkan-Nya tidak pernah ditinggalkan.”
╚════════════════════════════════════════════╝
Ia menegaskan bahwa salib bukan sekadar lambang luka, tetapi tanda cinta yang paling utuh—cinta yang mengorbankan diri hingga titik terakhir.
╔════════════════════════════════════════════╗
“Marilah kita memandang salib bukan sebagai tanda
penderitaan semata, tetapi sebagai tanda cinta.
Kiranya kita belajar hidup melayani dengan cinta
seperti Kristus yang mengasihi kita sampai akhir.”
╚════════════════════════════════════════════╝
Di akhir homilinya, suasana semakin larut dalam permenungan. Setiap detail penderitaan Kristus dihadirkan kembali dalam ingatan umat—cambukan, mahkota duri, paku, hingga hujatan yang menembus hati—semuanya menjadi kisah tentang kesetiaan yang tak tergoyahkan.
╔════════════════════════════════════════════╗
“Mari kita renungkan pengorbanan Kristus di kayu salib
sebagai simbol cinta kasih yang tak terbatas, yang harus
kita wujudkan melalui pelayanan kepada sesama tanpa
memandang perbedaan.”
╚════════════════════════════════════════════╝
Kehadiran Bupati Belu dalam ibadah ini bukan sekadar formalitas, melainkan penegasan bahwa pemimpin juga adalah bagian dari umat—yang berlutut, merenung, dan mencari makna di hadapan misteri iman yang sama.
Secara kontekstual, perayaan Jumat Agung di wilayah seperti Nenuk memiliki makna sosial yang kuat. Di tengah dinamika kehidupan masyarakat perbatasan, nilai pengorbanan, kesetiaan, dan pelayanan menjadi fondasi penting dalam membangun harmoni. Momentum religius seperti ini tidak hanya memperkuat iman pribadi, tetapi juga menjadi ruang kolektif untuk meneguhkan solidaritas sosial di tengah keberagaman dan tantangan kehidupan.
Ibadah berlangsung aman, lancar, dan penuh kekhidmatan—sebuah perayaan sunyi yang justru berbicara paling dalam.
Dan ketika umat perlahan meninggalkan kapela, yang tersisa bukan hanya jejak langkah di tanah Nenuk, tetapi juga pesan abadi: bahwa dalam luka, ada cinta yang menyelamatkan—dan dalam pengorbanan, ada harapan yang tak pernah padam.















