banner 728x250

Di Ujung Laut dan Doa, Belu Menyulam Asa dari Pasir Putih dan Patung Bunda

Ketika Teluk Gurita dan Hamparan Pasir Menjadi Harapan Sunyi PAD di Bumi Perbatasan

ATAMBUA | BELUPOS.Com — Angin laut berembus pelan di Teluk Gurita. Di ketinggian yang memandang birunya samudera, Patung Bunda Maria berdiri teduh, seolah merangkul daratan Belu dengan doa yang tak pernah usai. Tak jauh dari sana, Pasir Putih membentang—hening, lembut, dan setia menunggu jejak-jejak kaki wisatawan.

Di antara desir ombak dan sunyi perbatasan, Pemerintah Kabupaten Belu tengah menyulam harapan. Dua destinasi ini bukan sekadar ruang rekreasi. Ia adalah denyut kecil yang diharapkan mampu menguatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Belu,  ,Januaria Nona Alo, S.IP
menyampaikan bahwa sepanjang 2025, retribusi dari dua objek wisata tersebut mencapai Rp196.019.000—hampir menyentuh target Rp200 juta atau 98,01 persen.

“Pendapatan tiap bulan tidak sama,” ujarnya, Senin (16/02/2026), dengan nada realistis namun penuh optimisme. Musim liburan dan hari besar nasional menjadi masa panen. Namun ketika hujan turun panjang dan hari-hari biasa berjalan tanpa perayaan, grafik itu pun cenderung datar.

Di Antara Musim dan Anggaran

Di , wisata rohani dan wisata umum bertemu dalam satu horizon. Sementara menghadirkan pesona alam yang sederhana namun memikat.

Tarif retribusi pun ditetapkan dengan perhitungan yang terukur:

  • Wisatawan nusantara: roda dua Rp8.000, mobil Rp20.000, bus Rp45.000.
  • Wisatawan mancanegara: motor Rp15.000, mobil Rp40.000, bus Rp45.000.

Angka-angka itu mungkin terlihat kecil di atas kertas. Namun bagi daerah perbatasan seperti Belu, setiap rupiah adalah denyut pembangunan.

Sayangnya, rencana besar penataan dan pengembangan kedua objek wisata ini masih tertahan. Keterbatasan anggaran menjadi tembok sunyi yang harus dihadapi.

╔══════════════════════════════════╗
“Kami ingin menata lebih baik—agar wisata rohani dan wisata umum ini menjadi kebanggaan Belu. Tetapi kemampuan anggaran masih terbatas.”
╚══════════════════════════════════╝

Suara itu bukan keluhan. Ia lebih menyerupai harapan yang disampaikan dengan jujur.


Pariwisata di Batas Negeri, Harapan di Batas Kemampuan

Kabupaten bukan kota besar dengan gemerlap lampu malam. Ia adalah wilayah perbatasan yang hidup dari keteguhan, bukan kemewahan. Pariwisata di sini tumbuh pelan—bertumpu pada iman, alam, dan keramahan masyarakat.

Di sore hari, ketika matahari perlahan turun di ufuk barat, bayang Patung Bunda Maria memanjang di tanah berbatu. Sejumlah peziarah menunduk khusyuk. Di Pasir Putih, anak-anak berlari mengejar ombak kecil.

Di momen-momen itulah, Belu menyadari: pariwisata bukan sekadar angka retribusi. Ia adalah wajah daerah. Ia adalah cerita tentang identitas.

╔══════════════════════════════════╗
“Kami percaya, jika dikelola dengan hati dan dukungan bersama, Teluk Gurita dan Pasir Putih akan menjadi sumber kebanggaan sekaligus kesejahteraan.”
╚══════════════════════════════════╝

Pemerintah daerah mungkin belum memiliki dana besar untuk penataan monumental. Namun langkah-langkah kecil tetap dijalankan. Target hampir tercapai. Optimisme belum padam.

Di ujung laut dan doa itu, Belu terus berdiri. Menatap ombak, menghitung harapan, dan percaya—bahwa dari pasir putih dan patung yang teduh, masa depan bisa disulam perlahan.

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *