banner 728x250

Dari Darah, Pohon, hingga Harapan Hidup

 

Cara Loka POM Belu Merayakan 25 Tahun BPOM RI

Tidak ada pesta gemerlap. Tidak pula seremoni berlebihan. Di Atambua, perayaan seperempat abad BPOM RI justru dirayakan dengan sesuatu yang paling esensial: menyelamatkan hidup, merawat bumi, dan menjaga masa depan manusia.

ATAMBUA | BELUPOS.Com
Pagi di Atambua menjelang akhir Januari 2026 terasa berbeda. Bukan karena baliho perayaan atau panggung hiburan, melainkan karena sebuah niat sunyi yang bekerja diam-diam: menghadirkan manfaat nyata bagi manusia dan lingkungan.

Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-25 Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia, Loka Pengawas Obat dan Makanan (POM) di Kabupaten Belu menyiapkan rangkaian kegiatan yang tak berhenti di dalam kantor, tetapi turun langsung ke denyut kehidupan masyarakat—dari tubuh manusia hingga aliran sungai.

Kepala Loka POM Kabupaten Belu, Ferdian Dwi Armanto, S.Farm., Apt, menegaskan bahwa peringatan ini tidak dimaknai sebagai seremoni institusional semata, melainkan sebagai momen refleksi dan aksi sosial untuk memperkuat kebersamaan, semangat kerja, serta sinergi lintas sektor di Kabupaten Belu dan Kabupaten Malaka.


“Ulang tahun BPOM kami maknai dengan memberi, bukan sekadar merayakan.”

Darah yang Mengalirkan Solidaritas

Agenda pertama dimulai dari sesuatu yang paling mendasar: darah manusia.
Pada Senin, 6 Januari 2026, Loka POM Belu menggelar donor darah terbuka untuk umum, bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) sebagai mitra strategis.

Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur—kantor vertikal, Pemerintah Daerah Belu, Satgas, kepolisian, hingga TNI—membangun satu simpul kolaborasi kemanusiaan di wilayah perbatasan.

Bukan sekadar kantong darah yang dikumpulkan, tetapi rasa saling menjaga yang diperkuat.


“Donor darah adalah bahasa paling jujur dari kepedulian: memberi tanpa bertanya siapa penerimanya.”

Menanam Pohon, Menanam Masa Depan

Dari tubuh manusia, perhatian Loka POM Belu bergerak ke tubuh alam.
Pada 30 Januari 2026, sebanyak 5.000 pohon akan ditanam di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Talalu—sebuah kawasan yang rentan longsor namun kaya harapan jika dirawat.

Penanaman ini bukan sekadar agenda simbolik, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang terhadap lingkungan. Pohon-pohon itu kelak menjadi penahan erosi, penjaga air, dan saksi bahwa negara pernah hadir untuk alamnya.


“Merawat lingkungan berarti menjaga kehidupan yang belum lahir.”

Deteksi Dini untuk Menjaga Kehidupan

Agenda ketiga menyentuh isu yang sering dibicarakan dengan suara pelan: kesehatan reproduksi dan kanker serviks.
Loka POM Belu mengadakan pemeriksaan kanker HPV bagi masyarakat Kabupaten Belu dengan biaya terjangkau, jauh di bawah harga normal.

Pemeriksaan ini dibuka untuk rentang usia 9 hingga 60 tahun, dengan kuota 100 orang—sebuah langkah kecil namun berarti dalam mendorong deteksi dini dan kesadaran kesehatan.

“Lebih baik mencegah hari ini, daripada menyesal di kemudian hari.”

Melalui tiga agenda besar ini, Ferdian menegaskan bahwa Loka POM Belu tidak hanya hadir sebagai pengawas obat dan makanan, tetapi sebagai mitra kehidupan masyarakat—peduli pada tubuh, lingkungan, dan masa depan generasi.

Ia mengajak masyarakat untuk terlibat aktif:
mendonorkan darah sebagai wujud solidaritas,
menjaga kesehatan melalui pemeriksaan HPV,
dan merawat alam demi anak cucu.


“Kami mengajak masyarakat ikut bergerak—peduli sesama, peduli kesehatan, dan peduli lingkungan. Karena pengawasan terbaik adalah yang dimulai dari kesadaran bersama.”
— Ferdian Dwi Armanto, S.Farm., Apt
Kepala Loka POM Kabupaten Belu

Di Atambua, perayaan 25 tahun BPOM RI tidak ditandai dengan kembang api.
Ia ditandai oleh darah yang mengalir untuk sesama,
pohon yang ditanam untuk masa depan,
dan kesadaran hidup sehat yang tumbuh pelan-pelan.

Sebuah perayaan yang mungkin sunyi,
namun bergema panjang dalam kehidupan masyarakat perbatasan.

 

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *