banner 728x250

184 Pasukan Oranye dan Mimpi Kota Bersih di Gerbang Perbatasan

Di bawah matahari Atambua yang menggantung pelan di ufuk timur, suara sekop dan deru dump truck menjadi musik pagi. Di kota perbatasan ini, kebersihan bukan sekadar rutinitas—ia adalah harga diri.

ATAMBUA |BELUPOS.Com – Kota Atambua itu bangun bersama debu. Di sudut pasar, di halaman sekolah, di gang-gang kecil yang menyimpan cerita warga, 184 pasukan kebersihan bergerak tanpa banyak kata. Mereka menyapu, mengangkut, memilah, dan menata. Di tangan merekalah wajah Atambua dipertaruhkan.

Di halaman kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan Kabupaten Belu, Kepala Dinas, Robert Mali, berbicara tenang namun tegas. Di hadapannya, data bukan sekadar angka. Ia adalah peta perjuangan.

╔════════════════════════════════════╗
“Kota yang bersih bukan hanya enak dipandang,
tetapi mencerminkan disiplin dan martabat masyarakatnya.
Di perbatasan ini, kebersihan adalah wajah Indonesia.”

Robert Mali
╚════════════════════════════════════╝

184 Orang, 12 Grup, dan 1.284 Titik Jemput

Sebanyak 184 tenaga Satgas Kebersihan menjadi tulang punggung pengelolaan sampah di Kabupaten Belu. Rinciannya tak sederhana:

  • 6 petugas TPA
  • 38 penyapu jalan
  • 17 penata taman
  • 4 penjaga hutan cendana
  • 7 petugas TPS3R
  • Sisanya adalah pengangkut sampah yang dibagi dalam 12 grup operasional

Mereka menyisir 1.284 titik jemput sampah dengan dukungan 10 TPS (Tempat Penampungan Sementara). Setiap hari, kota ini menghasilkan rata-rata 92,57 ton sampah, atau sekitar 33.780 ton per tahun dengan jumlah penduduk 2024 tercatat 231.432 jiwa.

Di TPA, aktivitas dimulai sejak pagi buta. Truk datang silih berganti. Sampah dipilah, sebagian diolah, sebagian lagi dikirim ke pihak offtaker. Plastik, kardus, dan besi menuju industri daur ulang. Sampah organik diolah menjadi pakan ternak atau kompos.

Belu tak lagi sekadar membuang. Ia mulai belajar mengelola.

Dari Regulasi ke Realisasi PAD

Tahun 2026 menjadi babak baru. Seluruh pelanggan layanan sampah berbayar telah ditetapkan melalui SK Kepala Dinas dan diperkuat dengan Perjanjian Kerja Sama (PKS) sesuai kategori: rumah tangga, hotel, restoran, rumah makan, toko, kios, bengkel, sekolah, asrama hingga instansi pemerintah.

Langkah ini bukan sekadar administrasi. Ia adalah strategi fiskal.

Target Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor persampahan tahun ini dipatok sebesar Rp781.440.000.

╔════════════════════════════════════╗
“Kami ingin pelayanan berjalan profesional.
Ada kewajiban, ada kontribusi.
Kebersihan harus punya nilai ekonomi agar berkelanjutan.”

Robert Mali
╚════════════════════════════════════╝

Regulasi menjadi fondasi. Kabupaten Belu telah memiliki:

  • Perda No. 1 Tahun 2024 tentang Pajak dan Retribusi Daerah
  • Perda No. 58 Tahun 2018 tentang Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
  • Perda No. 6 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah

Di atas kertas, sistem telah terbentuk. Tantangannya kini adalah konsistensi di lapangan.

Jejak Adipura dan Mimpi yang Belum Usai

Kabupaten Belu pernah mencicipi manisnya Penghargaan Adipura, terakhir pada tahun 2014. Sebuah prestasi yang masih diingat sebagai tonggak kebanggaan.

Namun waktu bergerak. Kota berkembang. Timbulan sampah meningkat. Tantangan pun berubah.

Kini, mimpi itu ingin dirajut kembali—bukan sekadar demi trofi, melainkan demi kesadaran kolektif.

Inovasi dan Arah Baru

Dalam materi profil pengelolaan sampah yang dipaparkan, beberapa langkah inovatif mulai digerakkan:

  • Optimalisasi TPS3R untuk pengolahan skala kecil
  • Kerja sama dengan offtaker daur ulang
  • Penguatan edukasi pemilahan sampah rumah tangga
  • Peningkatan armada dan ritase pengangkutan

Komposisi sampah menunjukkan dominasi sampah rumah tangga, dengan fraksi organik dan plastik sebagai penyumbang terbesar. Artinya, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci.

Tanpa partisipasi warga, 184 orang itu akan selalu bekerja dua kali lebih keras.

Di Balik Seragam Oranye

Sore menjelang. Di satu sudut kota, seorang penyapu jalan merapikan daun-daun yang gugur. Ia tak bicara tentang target PAD. Ia tak menghitung tonase. Tapi di sapuannya, ada rasa memiliki.

Kota perbatasan ini bukan hanya soal garis imajiner antara dua negara. Ia adalah etalase. Apa yang tampak di Atambua, itulah yang pertama kali dilihat dunia tentang Indonesia di gerbang timur.

Dan di sanalah 184 orang itu berdiri—tanpa sorotan kamera, tanpa panggung kehormatan—menjaga martabat kota dari tumpukan yang kerap dianggap remeh.

Atambua sedang belajar bahwa kebersihan bukan hanya urusan dinas. Ia adalah urusan bersama.

Karena kota yang bersih bukan sekadar nyaman ditinggali—
ia adalah cermin peradaban.

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *