Suasana penuh makna menyelimuti halaman SMPS Taruna Lidak, Atambua. Di Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, para guru dan siswa menyalakan kembali semangat persatuan lewat aksi sederhana namun sarat nilai: menanam bunga dan menebar kepedulian.
ATAMBUA, (BELUPOS.COM) – Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 tahun ini menjadi momentum penting bagi keluarga besar SMPS Taruna Lidak, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Meski digelar secara sederhana, kegiatan tersebut memancarkan makna mendalam bagi generasi muda di sekolah itu.
Acara diisi dengan penanaman bunga lantana di lingkungan sekolah dan pemeriksaan tensi darah gratis bagi masyarakat sekitar. Para guru tampil anggun mengenakan tenun adat Belu, menandai kebanggaan pada budaya lokal sekaligus semangat kebersamaan.
Kepala Sekolah SMPS Taruna Lidak, Stanis Bria Seran, mengatakan bahwa peringatan Hari Sumpah Pemuda harus menjadi ruang pembelajaran bagi peserta didik untuk memahami arti perjuangan dan pengabdian.
“Hari Sumpah Pemuda di sekolah harus bermakna. Anak-anak harus belajar menjadi generasi yang berguna dan bermanfaat bagi bangsa dan negara,” ujarnya penuh harap.
Ia menambahkan, momentum 28 Oktober harus menjadi literasi pendidikan karakter menuju Indonesia Emas 2045. Pendidikan, kata Stanis, bukan sekadar pengetahuan, tetapi juga pembentukan akhlak, etika, budaya, dan iman yang kuat.
“Negara ini akan berubah karena akhlak anak didik kita. Tanpa pendidikan, semuanya tidak ada artinya,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Stanis mengajak para siswa untuk menanamkan semangat juang dan kebersamaan sebagaimana yang diwariskan para pemuda tahun 1928.
“Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi. Semangat Sumpah Pemuda harus hidup setiap hari—hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan esok lebih baik dari hari ini,” pungkasnya.















