Uskup Atambua Pimpin Misa Syukur HUT RI ke-80: “Hidup Sebagai Orang Merdeka”
ATAMBUA |BELUPOS.Com) – Sabtu pagi, 16 Agustus 2025, langit Kota Atambua menyimpan warna keemasan senja. Gereja Katedral Atambua berdiri megah, menyambut umat yang datang dengan wajah teduh dan hati penuh syukur. Dentang lonceng gereja memecah keheningan, menandai awal sebuah perayaan rohani yang istimewa: Misa Syukur Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia.
Di altar, Uskup Atambua, Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr, mengenakan kasula putih dengan corak merah, warna yang berpadu seirama dengan Sang Merah Putih yang berkibar gagah di halaman katedral. Dengan tema “Hidup Sebagai Orang Merdeka,” misa ini menjadi panggung rohani yang mengajak umat untuk merenungkan makna kemerdekaan, bukan sekadar dalam ingatan sejarah, melainkan dalam denyut kehidupan sehari-hari.
Bangku-bangku gereja penuh sesak. Hadir Bupati Belu, Willybrodus Lay, SH, bersama Wakil Bupati Vicente Hornai Gonsalves, ST, jajaran Forkopimda Kabupaten Belu, Staf Ahli TP PKK, Konsulat Timor Leste di Atambua, para pimpinan OPD, biarawan-biarawati, hingga ratusan pelajar berseragam putih abu-abu. Mereka duduk berdampingan, seakan menegaskan bahwa kemerdekaan adalah milik bersama, tanpa sekat dan tanpa jarak.
Dalam homilinya, Uskup Dominikus menyampaikan pesan yang meresap ke dalam hati umat.
“Hidup sebagai orang merdeka berarti hidup dalam kasih. Bebas dari kebencian, bebas dari rasa iri, dan berani mengulurkan tangan bagi sesama. Inilah wajah kemerdekaan sejati yang Tuhan kehendaki bagi kita semua,” ucapnya lembut namun penuh wibawa, membuat suasana katedral terasa hening, hanya suara hatilah yang berbisik dalam doa.
Paduan suara paroki menyalakan atmosfer liturgi dengan lantunan lagu rohani yang mengalun bagai doa sayap-sayap malaikat. Suara anak-anak remaja yang jernih mengisi ruang katedral, berpadu dengan iringan organ yang megah, membangkitkan rasa haru yang sulit dibendung.
Di luar gereja Merah putih berkibar lembut diterpa angin sore Atambua. Sejumlah siswa berdiri rapi dengan seragam putih, wajah mereka penuh harapan. Seolah ada pesan sunyi yang berbisik dari generasi ke generasi: kemerdekaan harus dirawat, bukan hanya dikenang.
Di tanah perbatasan, doa kemerdekaan bukan hanya milik Indonesia, tetapi juga jembatan persahabatan antarbangsa. Perbedaan bahasa dan budaya luruh dalam harmoni doa dan persaudaraan.
Misa syukur ini menjadi lebih dari sekadar ibadat. Ia menjelma sebagai refleksi perjalanan bangsa, sebagai peneguh identitas, dan sebagai api kecil yang terus menyala di dada umat: api cinta tanah air yang tidak akan padam.
Di perbatasan ini, doa dan merah putih menyatu. Kemerdekaan bukan hanya sebuah tanggal dalam kalender sejarah, melainkan napas hidup sehari-hari. Dan di altar katedral, doa syukur umat Atambua membumbung tinggi, seolah menegaskan bahwa Indonesia merdeka bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dihidupi.















