Sepuluh tahun berjualan di tepi jalan, Jimi tetap menjaga mimpinya: sebuah lapak layak untuk menampung rezeki dan harapan.
LEWOLEBA |BELUPOS Com)– Terpal biru itu berkibar pelan, ditarik angin yang datang dari arah pesisir. Di bawahnya, seorang pria berdiri tegak, bersandar santai pada mobil pikap putih yang baknya penuh sesak: sapu lidi warna-warni menjuntai di satu sisi, ember-ember plastik bertumpuk di sudut lain, keranjang mainan anak tergantung di udara.
Ada suara gemerisik plastik, aroma tanah basah selepas hujan, dan riuh kendaraan yang lalu-lalang tak jauh dari sana.
Dialah Jimi, lelaki perantau dari Kampung Nunumeo, Timor Tengah Selatan. Sejak 2013, ia menjejakkan kaki di Lembata, memulai hidup dari nol. “Waktu itu ikut bos, jual barang-barang dapur di Lewoleba,” kisahnya.
Namun perjalanan hidup membawanya jauh ke timur pulau, ke Peusawa, Kecamatan Omesuri—kampung halaman istrinya. Di sanalah ia menetap, menapaki hari-hari sebagai pedagang keliling sekaligus penjaga mimpinya.
“Sejak 2013 sampai sekarang saya jual barang,” ujarnya singkat.
Kata-kata itu terdengar biasa, tetapi di baliknya tersimpan kisah perjuangan melawan sempitnya peluang dan kerasnya hidup di perantauan.
Pasar Walangsawa, pusat ekonomi yang ramai, bukan tanpa masalah. Lapak resmi penuh sesak. Pedagang yang tak kebagian tempat memilih menyewa tanah milik warga—seratus ribu rupiah sebulan, kadang kurang dari lima puluh ribu. Jimi tak mengikuti jejak itu. Ia memilih menata dagangannya di pinggir jalan, membayar retribusi harian lima ribu rupiah. Di situ ia berdamai dengan debu, panas, dan tatapan heran orang-orang yang melintas.
Pernah, ia bercerita, pemerintah menegurnya. “Mau bagaimana? Kita tidak punya tempat,” ucapnya, sambil mengangkat bahu.
Bagi Jimi, teguran hanyalah bagian kecil dari hidup; yang penting, roda dagangan tetap berputar.
Masa-masa manis pernah ia cicipi. Antara 2013 hingga akhir 2021, penghasilannya pernah meledak hingga sepuluh juta rupiah dalam satu hari. “Paling kecil lima ratus ribu,” kenangnya. Angka-angka itu seperti percikan cahaya di tengah perjalanan panjang yang kadang redup.
Namun, uang tidak sepenuhnya memuaskan hati. Ada kerinduan yang terus mengendap—sebuah lapak yang layak, tempat di mana jual beli tidak menghalangi laju kendaraan, di mana ia bisa menata barang-barangnya tanpa harus khawatir diterpa hujan miring atau angin kencang.
“Kalau di pinggir jalan, kita ini seperti menunggu hujan di musim kemarau,” katanya pelan. “Tetap berharap, walau sering diterpa debu.”
Di belakangnya, mainan-mainan plastik bergoyang diterpa angin, seolah ikut mendengarkan cerita hidupnya. Lalu sebuah motor berhenti, seorang ibu turun, melihat-lihat ember plastik, lalu membeli satu.
Jimi tersenyum tipis, menerima uang, dan memberikan kembalian. Hidup pun berlanjut—setapak demi setapak, seperti yang selalu ia jalani sejak menyeberangi laut dari Timor ke Lembata, satu dekade lalu.















