banner 728x250

Jalan Bauatok–Debubot Tergerus Lagi: Ketika Darurat Menjadi Jawaban yang Terlalu Lama

ATAMBUA |BELUPOS.Com)-Kembalinya kerusakan di ruas jalan Bauatok–Debubot memunculkan tanya lama yang belum pernah dijawab tuntas: sampai kapan warga harus menunggu perbaikan yang benar-benar memadai?

Kerusakan yang tampak dalam foto—pinggiran badan jalan yang kembali longsor, pondasi darurat yang hanya ditopang kayu kusambi, serta lubang-lubang besar yang menganga—menjadi bukti bahwa penanganan sebelumnya belum menyentuh akar persoalan.

“Ini penanganan darurat, tidak ada anggaran,”
— Vincent Dalung, Kadis PUPR Kabupaten Belu

Begitu penjelasan singkat Kepala Dinas PUPR Belu, Vincent Dalung, ketika dikonfirmasi Belupos.com, Selasa (18/11/2025) pagi.

Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa pengerjaan sebelumnya bukan proyek kontraktor, melainkan upaya darurat sekadar menjaga akses tidak terputus.

Jalan yang Sekadar Bertahan

Ruas ini sebetulnya bukan sekadar penghubung antarwilayah—ia adalah denyut harian bagi anak sekolah, pedagang kecil, pengangkut hasil pertanian, hingga masyarakat yang bergantung pada mobilitas untuk bertahan hidup. Namun yang mereka dapat adalah jalan yang berubah seperti sungai kering: batuan berserak, tanah retak, dan permukaan yang terputus.

Pada foto ketiga, dua pelajar tampak memaksa melintas dengan sepeda motor, berhati-hati di atas permukaan tanah yang sudah tidak layak disebut jalan. Di sisi kiri-kanan, bekas longsoran tampak seperti dinding yang perlahan memakan habis bahu jalan.

Dalam kondisi demikian, spanduk kuning bertuliskan “Beban Maksimum 5 Ton” justru terasa seperti ironi: bukan soal beban kendaraan, melainkan beban kesabaran warga.

Ketika Darurat Terlalu Lama Berlangsung

Penanganan darurat adalah upaya cepat, tetapi ia tidak didesain untuk bertahan berbulan-bulan—apalagi bertahun-tahun. Kayu kusambi yang dipakai sebagai alas pinggiran jalan seolah menjadi simbol keterbatasan: bukan karena ketidakpedulian, tetapi karena anggaran yang benar-benar tidak tersedia.

Namun, bagi masyarakat di Bauatok–Debubot, alasan apa pun tidak mengurangi risiko yang mereka hadapi setiap hari. Jalan yang terus tergerus adalah ancaman, bukan sekadar ketidaknyamanan.

Di tengah keheningan hutan jati yang mengapit jalan, suara warga seakan menggema:

“Mohon diperhatikan ulang. Terima kasih.”

Bukan teriakan, bukan protes keras—hanya permintaan sederhana agar akses vital ini kembali ditangani dengan serius.

Refleksi: Infrastruktur Bukan Sekadar Beton

Ruas jalan seperti ini mestinya tidak dibiarkan hidup dari penanganan darurat ke penanganan darurat berikutnya. Infrastruktur adalah soal keberlanjutan, bukan tambal sulam. Ia adalah janji negara yang setidaknya harus dipenuhi dalam bentuk paling dasar: keselamatan pengguna.

Ketika darurat menjadi rutinitas, maka yang sesungguhnya darurat adalah cara kita memandang pembangunan itu sendiri.

Masyarakat kini menunggu, apakah kerusakan Bauatok–Debubot akan kembali ditangani sebagai “darurat tanpa anggaran”—atau akhirnya masuk daftar pekerjaan yang mendapat perhatian penuh dan perbaikan permanen.

Sementara itu, jalan tetap rusak. Warga tetap lewat. Dan permintaan sederhana itu terus berulang—barangkali sampai ada yang benar-benar mendengarnya.

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *