ATAMBUA | BELUPOS.COM — “Kami berpacu dengan waktu. Sedikit saja terlambat, mungkin nyawa itu sudah pergi,” ujar Ipda Yusran, Kapolsek Tasifeto Timur, mengenang siang dramatis di Desa Sadi, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu.
Hari itu, matahari menajam, debu menari di jalan tanah. Dari sebuah rumah beratap ilalang, terdengar teriakan warga — seorang pria paruh baya, DMB (51), berdiri di halaman rumahnya dengan leher berlumuran darah. Sebilah parang tergeletak di dekat kakinya. Ia baru saja mencoba mengakhiri hidupnya.
Warga tak berani mendekat. Tubuh DMB perlahan goyah dan terjatuh di tanah. Saat itulah, Polsek Tasifeto Timur bergerak cepat. Tanpa menunggu ambulans, anggota polisi bersama warga mengevakuasi korban menggunakan sepeda motor menuju RSUD Mgr. Gabriel Manek SVD Atambua.
“Yang penting selamat dulu. Soal luka, nanti bisa dijahit, tapi kalau nyawa hilang, tak bisa diganti,” ucap seorang anggota yang ikut menandu korban di jalan berbatu menuju rumah sakit.
Luka sayat di leher korban sepanjang enam sentimeter, lebar tiga sentimeter. Dokter memastikan korban masih beruntung — napasnya tersisa meski tipis.
Menurut Yuliana Abu Leto (47), istri korban, gejala aneh sudah tampak sejak malam sebelumnya. “Dia gelisah, bicara sendiri, dan bilang ada orang mau datang. Saya takut, saya bawa anak pergi tidur di rumah saudara,” kisahnya lirih.
Korban diketahui pernah dirawat karena gangguan saraf kepala. Warga sekitar menyebut, ketika penyakitnya kambuh, DMB sering membawa parang dan marah-marah tanpa sebab. Hari itu, badai kecil dalam pikirannya datang lagi — dan hampir menelan hidupnya sendiri.
Kini DMB masih dirawat intensif di rumah sakit. Polisi menunggu kondisinya membaik untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Barang bukti sebilah parang telah diamankan di Polsek Tasifeto Timur.
Kapolsek Ipda Yusran mengimbau warga agar lebih peduli terhadap kesehatan mental orang di sekitar mereka. “Terkadang seseorang tidak butuh banyak kata. Cukup ada yang mendengar, itu bisa menyelamatkan nyawa,” ujarnya.
Di pelosok perbatasan itu, di antara rumah sederhana dan tanah yang kering, aparat dan warga hari itu membuktikan: cepat tanggap bukan sekadar tugas, tapi wujud kemanusiaan.
Tagline:
BELUPOS.COM – Suara dari Perbatasan, Menyuarakan Kebenaran.















