ATAMBUA, [BELUPPO.Com] — Di bawah langit yang sempat diguyur hujan sore itu, halaman rumah sederhana di Umakulit berubah menjadi panggung kebersamaan. Sekitar seratus warga berkumpul, menyambut kehadiran para wakil rakyat mereka dalam Reses III DPRD Kabupaten Belu Dapil I, yang tak hanya datang membawa aspirasi, tetapi juga menghadirkan harapan.
Turut hadir Ketua DPRD Belu Feby Juang, Wakil Ketua I Tony Kota, serta anggota DPRD Yane Bone, Stanis Lau, Tony Luan, Marthen Martins Nai Buti, dan Edu Mau Boy. Dari unsur pemerintah, tampak Kabid PUPR Frans Lako, Camat Kota Atambua Yohanes Moruk, Lurah Fatubenao Stefanus Pires dan para pengurus LPM bersama tokoh masyarakat setempat.
Pertemuan hangat itu bukan sekadar agenda formal reses, melainkan tindak lanjut dari rapat bersama masyarakat pada 26 September 2025, terkait normalisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Talau yang selama ini menimbulkan rasa waswas di hati warga.
“Kami datang bukan sekadar untuk berbicara, tapi untuk melihat, mendengar, dan memperjuangkan apa yang menjadi kebutuhan rakyat,” tutur Feby Juang, Ketua DPRD Belu, dengan nada yang memancarkan ketulusan.
Suasana penuh haru menyelimuti saat Kabid PUPR Frans Lako menyampaikan kabar baik. Dua ekskavator akan diterjunkan esok hari untuk melakukan pengerukan di aliran sungai, dibantu satu ekskavator tambahan dari Bos Victor Samara.
“Kami ingin masyarakat Umakulit tidur nyenyak tanpa dihantui banjir,” ujar Frans singkat namun bermakna.
Kebersamaan juga tampak dari para anggota DPRD Dapil I yang secara swadaya membantu dana upacara adat dan operasional kegiatan normalisasi. Semangat gotong royong itu menjadi bukti bahwa politik sejati hidup di tengah rakyat, bukan di ruang rapat.
Dari balik kursi plastik yang tersusun rapi, Yohanes Koson berdiri mewakili warga.
“Terima kasih kepada ibu bapak dewan yang sudah datang mendengar keluhan kami, rakyat kecil. Kami merasa dihargai,” ucapnya lirih, disambut tepuk tangan masyarakat.
Lurah Fatubenao, yang memandu jalannya kegiatan, tak lupa mengapresiasi perhatian yang luar biasa dari DPRD dan pemerintah daerah.
“Tahun ini kelurahan kami mendapat banyak perhatian—pembangunan jalan, jaringan listrik, perluasan SPAM, dan kini normalisasi sungai. Terima kasih untuk semua pihak yang peduli,” ujarnya penuh rasa syukur.
Hujan yang sempat turun justru menambah kehangatan. Warga tetap bertahan, membawa aspirasi, harapan, dan doa. Di sela-sela itu, seorang ibu bernama Mama Theresia Meak sempat menyuarakan keresahannya tentang PKH dan bantuan sosial yang belum mereka terima, tanda bahwa suara rakyat tak pernah berhenti mencari keadilan.
Menjelang senja, kegiatan ditutup dengan makan bersama — simbol sederhana namun sarat makna: bahwa antara rakyat dan wakilnya, tak ada jarak ketika hati yang berbicara.
“Hari ini kita belajar bahwa hujan bukan tanda hambatan, tetapi berkat yang menyatukan,” kata salah satu warga sebelum semua beranjak pulang.
BELU POS – Menyuarakan Kebenaran dari Perbatasan.















