Musrenbang Bukan Sekadar Agenda, Tapi Ikhtiar Kolektif Menjawab Kebutuhan Rakyat
ATAMBUA |BELUPOS.Com) — Aula Kelurahan Lidak, Kecamatan Atambua Selatan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Jumat (6/2/2026), tidak sekadar dipenuhi kursi dan meja rapat.
Di ruang itu, gagasan bertemu harapan, aspirasi bertaut dengan kebutuhan, dan suara warga mencari jalannya menuju kebijakan publik yang lebih berpihak.
Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat Kelurahan Lidak berlangsung dalam suasana serius namun penuh semangat.
Hadir LPM, para Ketua RW dan RT, kepala sekolah PAUD dan SD, serta tokoh masyarakat, seluruhnya menyatu dalam satu tujuan: memastikan pembangunan benar-benar lahir dari bawah—bottom up, bukan sekadar catatan administratif.
Di hadapan peserta, Lurah Lidak, Paulus Boy Sala, membuka ruang dialog dengan penekanan yang jernih: Musrenbang bukan formalitas tahunan, melainkan forum lahirnya kejujuran sosial tentang apa yang sungguh dibutuhkan warga.
❝Saya berharap seluruh peserta bekerja sama melahirkan gagasan dan aspirasi kebutuhan masyarakat, agar apa yang kita rumuskan benar-benar menjawab kebutuhan warga secara tepat sasaran❞
— Paulus Boy Sala, Lurah Lidak
Kalimat itu menggantung di ruang aula, seolah mengingatkan bahwa setiap usulan memiliki konsekuensi—bukan hanya bagi dokumen perencanaan, tetapi bagi kehidupan sehari-hari warga Kelurahan Lidak.
Nada serupa ditegaskan Ketua LPM Kelurahan Lidak, Cornelis Koli. Baginya, Musrenbang harus lebih dari sekadar daftar keinginan. Ia menuntut ketajaman formulasi, agar setiap program yang diusulkan memiliki daya guna dan hasil nyata.
❝Musrenbang ini harus diformulasikan dengan baik, sehingga menghasilkan program yang berdaya guna dan berhasil guna bagi masyarakat Kelurahan Lidak❞
— Cornelis Koli, Ketua LPM Kelurahan Lidak
Ia menekankan bahwa pembahasan difokuskan pada 10 program prioritas, yang dirumuskan dari gagasan dan kebutuhan riil masyarakat—bukan dari kepentingan sesaat.
Dari sudut aula, suara pengalaman berbicara melalui Edmundus Sillan, tokoh masyarakat Kelurahan Lidak. Dengan nada tenang namun tegas, ia mengingatkan bahwa perjuangan tidak berhenti di tingkat kelurahan.
❝Apa yang sudah kita sepakati hari ini harus terus kita kawal dan perjuangkan pada Musrenbang tingkat kecamatan hingga kabupaten, agar benar-benar dapat dinikmati oleh warga Kelurahan Lidak❞
— Edmundus Sillan, Tokoh Masyarakat Lidak
Musrenbang hari itu berjalan hidup. Diskusi mengalir, argumentasi diuji, dan solusi dirajut bersama. Antusiasme peserta terasa kuat—bukan sekadar hadir, tetapi terlibat. Setiap usulan diarahkan agar mampu menjawab kebutuhan nyata: dari pelayanan dasar, infrastruktur, hingga penguatan sosial masyarakat.
Di Kelurahan Lidak, Musrenbang menjadi cermin kecil praktik demokrasi pembangunan. Ia menunjukkan bahwa pemerintahan yang baik dimulai dari keberanian mendengar, dan pembangunan yang adil lahir dari kesediaan melibatkan rakyat sejak awal.
Dari aula sederhana itu, warga Lidak menitipkan harapan—agar apa yang dirumuskan hari ini tidak berhenti sebagai berita acara, tetapi benar-benar menjelma menjadi kebijakan yang menyentuh hidup mereka.















