banner 728x250

Darah yang Mengalir, Kemanusiaan yang Menyala

Di batas negeri, ketika stok darah habis dan harapan menipis, kemurahan hati justru menemukan jalannya sendiri.

MALAKA |BELUPOS.Com)-Di Betun, sebuah pagi yang semula biasa berubah menjadi cerita tentang empati. Vinelda B. Manek (54), pasien dengan hemoglobin (Hb) rendah di Rumah Sakit Umum Penyangga Perbatasan (RSUPP) Betun, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, perbatasan RI – Timor Leste membutuhkan darah golongan A—lima kantong sekaligus.

Namun stok di unit transfusi darah kosong, sepi seperti lorong rumah sakit yang memantulkan kecemasan keluarganya.

Di tengah ketidakpastian itu, Edi, suami Vinelda, memilih mengetuk pintu terakhir yang menurutnya masih menyimpan harapan: Polres Malaka. Dengan suara yang mengandung getaran antara takut dan percaya, ia menyampaikan permintaan sederhana namun penuh harap kepada Kapolres Malaka, AKBP Riki Ganjar Gumilar, S.I.K., M.M.

Balasan yang ia terima bukan sekadar jawaban administratif, melainkan tindakan nyata. Tanpa menunggu panjang, Kamis (13/11/2025), Kapolres bersama empat personel bergerak menuju RSUPP Betun untuk melakukan donor darah.

Edi hanya mampu berkata, dengan mata yang berkabut oleh rasa syukur:

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Kapolres Malaka dan jajarannya yang rela mendonorkan darah demi kesembuhan istri saya.”

Di ruang donor yang sederhana itu, darah mengalir pelan, membawa serta sesuatu yang lebih berharga daripada sel dan plasma: kemanusiaan.

Kapolres Riki Ganjar memandang aksi itu bukan sebagai seremoni, melainkan refleksi nilai yang sedang ia tanamkan di tubuh organisasi yang ia pimpin.

“Donor ini bukan sekadar donor, tetapi komitmen kami pada nilai polisi humanis, presisi, dan melayani dengan hati—karena Polri itu untuk masyarakat,” ujarnya tenang.

Baginya, budaya donor darah adalah tradisi pengabdian yang harus dijaga, bukan aktivitas insidental. Ia mengingatkan bahwa tindakan sederhana seperti mendonorkan darah tidak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga memupuk empati dan solidaritas sosial.

“Selama saya di sini, anggota selalu antusias ikut kegiatan bakti sosial. Semangat itu perlu terus dipupuk agar berkelanjutan,” tegasnya.

Dari balik tirai perbatasan yang kadang digambarkan keras dan penuh keterbatasan, justru muncul cerita lembut tentang orang-orang yang memilih bertindak tanpa banyak kata. Darah yang mereka donorkan bukan hanya pertolongan fisik, tetapi juga pesan simbolik bahwa kehadiran negara bisa begitu dekat dan manusiawi.

Pada akhirnya, kegiatan donor itu meneguhkan satu hal: kesehatan bukan hanya urusan medis, melainkan juga kisah sosial tentang orang yang bersedia berbagi sebagian dari dirinya untuk orang lain.

Karena di perbatasan, kemanusiaan sering tumbuh dalam tindakan-tindakan kecil, tapi dampaknya besar.

banner 325x300
Penulis: ES/L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *