ATAMBUA | BELUPOS.Com— Kabupaten Belu kembali bersiap menjadi panggung besar kawasan perbatasan Indonesia dan Timor Leste melalui pelaksanaan Wonderful Indonesia Cross Border Fest Atambua 2026 yang dijadwalkan berlangsung mulai 4 Agustus 2026 di kawasan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain.
Sebagai langkah awal persiapan, Pemerintah Kabupaten Belu bersama Kementerian Pariwisata Republik Indonesia menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Persiapan Cross Border Fest 2026 di Aula Lantai 1 Kantor Bupati Belu, Selasa (12/5/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi lintas sektor guna menyukseskan event internasional yang diproyeksikan menjadi magnet baru pariwisata kawasan perbatasan.
Cross Border Fest 2026 tidak hanya menghadirkan hiburan semata, tetapi juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan sektor pariwisata, memperkuat UMKM lokal, menggerakkan ekonomi kreatif masyarakat, hingga mempererat hubungan sosial dan budaya antara Indonesia dan Timor Leste.
Berbagai agenda menarik dipersiapkan untuk memeriahkan festival tersebut, mulai dari bazar UMKM, pertunjukan musik dan entertainment, jalan sehat, senam bersama, permainan tradisional, talkshow, hingga championship dan berbagai atraksi hiburan lainnya.
Pemerintah Kabupaten Belu menilai festival lintas batas ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan potensi daerah sekaligus memperkuat posisi Belu sebagai gerbang strategis pariwisata internasional di wilayah timur Indonesia.
Selain menjadi ajang promosi budaya dan destinasi wisata, kegiatan tersebut juga diharapkan memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil dan komunitas kreatif di kawasan perbatasan.
Dengan dukungan pemerintah pusat dan keterlibatan berbagai pihak, Wonderful Indonesia Cross Border Fest Atambua 2026 diharapkan mampu menghadirkan wajah baru pariwisata perbatasan yang lebih hidup, inklusif, dan berdaya saing internasional.
Di beranda terdepan negeri itu, Belu tidak hanya sedang mempersiapkan sebuah festival, tetapi juga sedang menyalakan harapan bahwa kawasan perbatasan mampu berdiri sebagai panggung persahabatan, budaya, dan masa depan ekonomi masyarakat.















