ATAMBUA | BELUPOS .Com– Aula Kelurahan Lidak, Kamis (26/03/2026), tak sekadar menjadi ruang seremonial. Ia menjelma menjadi panggung peralihan harapan—di mana waktu seolah berhenti sejenak, memberi ruang bagi kenangan untuk berpamitan dan masa depan untuk diperkenalkan.
Di ruangan sederhana itu, nama Paulus Nahak Boy Sala perlahan dilepas dari nahkoda Kelurahan Lidak setelah 2,4 bulan pengabdian, dan tongkat estafet kepemimpinan diserahkan kepada Ruben Bauk, SH. Tak ada kemegahan berlebihan, namun suasana terasa hangat—penuh makna, sarat rasa.
Sekretaris LPM Kelurahan Lidak, Blasius Manek, menjadi salah satu suara awal yang menegaskan arah perjalanan ke depan. Ia mengajak seluruh elemen untuk tidak sekadar menyaksikan pergantian, tetapi ikut menulis bab baru pembangunan.
╔══════════════════════════════════╗
“Kita butuh kerja sama semua pihak. Mari bangun kelurahan ini dengan hati. Apa yang sudah dirintis pejabat lama, kita lanjutkan dengan evaluasi—yang baik kita jaga dan tingkatkan, yang belum baik kita perbaiki bersama.”
╚══════════════════════════════════╝
Suasana kemudian mengalir ke nada haru saat mantan lurah, Paulus Nahak Boy Sala, menyampaikan pamitan. Ucapan terima kasihnya sederhana, namun terasa dalam—seolah merangkum seluruh perjalanan singkat namun berarti bersama warga.
╔══════════════════════════════════╗
“Terima kasih kepada seluruh masyarakat. Jika selama ini ada yang tidak berkenan, mohon dimaafkan. Mari kita bergandengan tangan mendukung lurah yang baru. Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.”
╚══════════════════════════════════╝
Tongkat kepemimpinan kini berada di tangan Ruben Bauk, SH. Dalam sambutan perdananya, ia tidak tampil dengan janji yang muluk, melainkan dengan kesadaran sederhana: membangun harus dimulai dari kebersamaan.
╔══════════════════════════════════╗
“Mari kita bangun Kelurahan Lidak bersama-sama, bergandengan tangan, dengan gagasan dan musyawarah untuk mufakat.”
╚══════════════════════════════════╝
Ruben juga mengungkapkan kejujurannya—bahwa dirinya tak pernah menyangka akan mengemban amanah sebagai lurah. Dari sebelumnya mengurus kelompok tani, kini ia dipercaya mengelola kehidupan masyarakat secara lebih luas.
Acara temu pisah itu dihadiri oleh LPM, para Ketua RT/RW, kader, serta staf Kelurahan Lidak. Sederhana dalam bentuk, namun dalam makna—sebuah refleksi bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu lahir dari gemerlap, tetapi dari kepercayaan yang tumbuh perlahan.
Secara kontekstual, pergantian kepemimpinan di tingkat kelurahan seperti ini menjadi titik krusial dalam menjaga kesinambungan pembangunan berbasis komunitas. Dalam struktur sosial seperti Lidak, kekuatan terbesar bukan hanya pada figur lurah, melainkan pada kohesi warga yang mampu merawat program, mengevaluasi kekurangan, dan bergerak bersama dalam satu arah.
Pada akhirnya, peristiwa di Aula Lidak bukan sekadar pergantian jabatan. Ia adalah pengingat sunyi—bahwa setiap pemimpin datang dan pergi, tetapi harapan masyarakat harus terus tinggal, tumbuh, dan diperjuangkan bersama.















