banner 728x250

Kota Neon di Gerbang Perbatasan RI- RDTL

Menyalakan Harapan, Menjaga Cahaya Kota Atambua

ATAMBUA |BELUPOS. Com) — Senja turun perlahan di Kota Atambua. Cahaya jingga menghilang di balik perbukitan perbatasan, dan satu per satu lampu penerangan jalan umum (PJU) mulai menyala. Di kota kecil yang menjadi gerbang Republik Indonesia di timur ini, cahaya bukan sekadar penerang. Ia adalah simbol kehadiran negara, denyut ekonomi malam, dan rasa aman bagi warganya.

Pemerintah Kabupaten Belu kini menata mimpi besar: menjadikan Atambua sebagai kota neon — kota yang setiap sudutnya tersentuh cahaya.

Di ruang kerjanya yang sederhana, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan Kabupaten Belu, Robert Mali, membuka data demi data. Angka-angka itu berbicara tentang terang dan gelap.

╔══════════════════════════════════╗
“Jumlah PJU di Kota Atambua dan sekitarnya saat ini mencapai 2.384 titik. Sekitar 20 persen mengalami kerusakan — ada yang ditabrak kendaraan, ada pula yang dirusak. Selebihnya masih berfungsi dengan baik.”
╚══════════════════════════════════╝

Kerusakan itu bukan sekadar statistik. Di lapangan, tiang yang rebah di ruas utama Hutan Jati Nenuk menjadi saksi bagaimana benturan kendaraan dan kabel terputus bisa mengubah terang menjadi gelap dalam sekejap.

Antara Perawatan dan Keterbatasan Anggaran

Tahun Anggaran 2026 belum membawa kabar penambahan titik lampu baru. Keterbatasan anggaran memaksa pemerintah fokus pada pemeliharaan rutin: mengganti bohlam yang redup, menyambung kabel yang terputus, serta memperbaiki tiang yang tumbang.

Robert Mali tak menampik tantangan itu. Namun, ia berbicara dengan optimisme yang menyala.

╔══════════════════════════════════╗
“Kami terus memperjuangkan agar PJU yang rusak dapat berfungsi kembali. Harapan kami, Kota Atambua di malam hari tidak ada lagi kegelapan — semuanya terang benderang.”
╚══════════════════════════════════╝

Di jalan-jalan utama, terutama kawasan Hutan Jati Nenuk, seluruh titik sebenarnya telah terpasang. Namun sebagian mulai tak berfungsi akibat benturan kendaraan. Beberapa tiang rubuh, kabel menjuntai, menyisakan bayang-bayang di tengah lalu lintas malam.

Cahaya dari Energi Matahari

Tak semua lampu bergantung pada jaringan konvensional. Sebagian PJU tenaga surya hadir melalui dukungan Kementerian ESDM dan hibah aspirasi dari berbagai pihak. Panel-panel surya itu berdiri tegak, menyerap matahari siang, memancarkan terang saat malam tiba — seolah menjadi metafora tentang harapan yang disimpan dan dilepaskan pada waktunya.

Di kota perbatasan seperti Atambua, cahaya memiliki makna strategis. Ia menjaga aktivitas ekonomi tetap hidup, memberi rasa aman bagi pejalan kaki, dan mempertegas wajah kota di mata tamu lintas negara.

Kota yang Tak Ingin Gelap

Feature ini bukan sekadar tentang lampu jalan. Ia tentang tekad. Tentang bagaimana sebuah kota kecil di timur Indonesia menolak tenggelam dalam gelap, meski dihadapkan pada keterbatasan.

Atambua sedang menata dirinya. Bukan dengan gemerlap berlebihan, melainkan dengan cahaya yang cukup untuk memastikan setiap langkah warganya tetap terlihat.

Dan di setiap tiang yang kembali berdiri, di setiap kabel yang tersambung ulang, terselip satu pesan sederhana:

Kota ini ingin terus menyala.

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *