banner 728x250

Jasad Itu Telah Pulang, Tangan Negara Datang Bawa Bantuan Peti

ATAMBUA|BELUPOS.Com]-Menjelang senja, Sabtu (21/02/2026), angin sepoi dari celah bukit tidak mampu membawa pergi duka. Di sebuah rumah duka di RT 12 RW 04 Kelurahan Fatubenao, sesak justru mengkristal di udara. Hanya sebatang peti mati berwarna cokelat mengilap yang menjadi “tamu” paling dinanti di tengah keluarga yang tercerai-berai oleh kesedihan. Peti itu adalah pelukan terakhir dari negara untuk Alm. Rikwaldus Baok, warga RT 15 RW 02 Kelurahan Lidak, yang menghembuskan napas terakhirnya pukul 13.00 WITA di RSUD Mgr. Gabriel Manek.

Lelaki itu pergi saat matahari tepat di atas ubun-ubun. Namun, “kehadiran” pemerintah baru tiba ketika bayangan mulai memanjang. Rombongan Dinas Sosial dan Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD) Kabupaten Belu datang bukan dengan nyawa, melainkan dengan sebuah kotak jati—simbol pengakuan bahwa seorang warganya telah berpulang.

Kabid Sosial, Roni Salem, mewakili Bupati dan Wakil Bupati Belu, menyerahkan bantuan tersebut. Bukan di atas meja kerja, bukan dalam seremonial dingin, melainkan di hadapan rongga kosong yang ditinggalkan almarhum. Lurah Lidak, Paulus Nahak Boy Sala, yang berdiri di samping petugas, matanya sembab menahan pilu.

“Bantuan ini bukan sekadar kayu dan paku,” ujar Paulus dengan suara bergetar, mencoba merangkai makna di tengah duka. “Ini adalah tangan hangat dari Bapak Bupati dan Wakil Bupati yang menjangkau warganya yang sangat kecil dan membutuhkan. Ketika raga tak berdaya, negara hadir membalutnya.”

Jenazah Alm. Rikwaldus Baok kini disemayamkan di rumah keluarga di Fatubenao. Wajah-wajah lelah bergantian menyiramkan air doa. Namun, di sudut ruangan, sebuah peti mati berdiri dengan diam. Bagi keluarga, peti itu bukanlah akhir, melainkan bukti paling pahit bahwa perhatian tak selalu datang saat napas masih tersisa, tetapi setidaknya datang sebelum tanah menutup kisah.

Hingga malam tiba, lilin-lilin kecil menyala. Di sampingnya, kotak jati itu bersandar—sebuah balok kayu yang di atasnya terukir pilu, dan di dalamnya akan terbaring seorang lelaki yang namanya mungkin tak pernah tercatat dalam agenda rapat, tetapi kematiannya cukup berarti untuk dicatat dalam lembaran bantuan sosial.

banner 325x300
Penulis: L24Editor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *