ATAMBUA | BELUPOS.Com — Pagi di Lolowa selalu dimulai dengan bunyi mesin yang menghangat, suara pedagang yang membuka lapak, dan langkah-langkah orang kecil yang menaruh harapan pada perjalanan hari itu. Di simpul inilah, Sabtu, 14 Februari 2026, sebuah kunjungan kerja berlangsung dengan makna yang lebih dalam dari sekadar agenda resmi.
Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur, , menjejakkan kaki di Terminal Tipe B Lolowa, Atambua. Sebuah terminal yang berdiri di kota perbatasan, namun menyimpan denyut ekonomi lintas kabupaten.
Di hadapan rombongan, Kepala UPTD Perhubungan NTT Wilayah II, , memaparkan kondisi sekaligus harapan atas kelanjutan revitalisasi terminal tersebut. Suaranya tenang, tetapi sarat urgensi.
Terminal Lolowa, katanya, bukan sekadar ruang parkir kendaraan. Ia adalah simpul transportasi darat yang strategis—menghubungkan Kabupaten Belu dengan Malaka, TTU, Kupang, bahkan Kota Kupang. Dari Atambua ke Betun, Kefamenanu, Eban, Oepoli, Soe, Fatumnasi, Oelamasi, hingga Wini—trayek-trayek itu bukan sekadar rute, melainkan urat nadi pergerakan masyarakat.
╔══════════════════════════════════════╗
“Terminal ini adalah jantung perbatasan.
Jika ia berdetak teratur,
maka ekonomi rakyat ikut berdenyut.
Revitalisasi bukan hanya soal bangunan,
tetapi soal martabat pelayanan.”
— Michael Bani
╚══════════════════════════════════════╝
Di sisi lain terminal, Pasar Lolowa berdampingan seperti dua saudara tua yang saling menguatkan. Pedagang kecil, pelaku UMKM, penjual kopi dan makanan sederhana, semua menggantungkan hidup pada arus kendaraan dan manusia yang datang silih berganti.
Kunjungan kerja itu menjadi momentum evaluasi sekaligus refleksi: sejauh mana Terminal Lolowa telah dimaksimalkan? Seberapa jauh ia bisa menjadi ruang aman, nyaman, dan produktif?
Michael menegaskan harapan agar ke depan Dinas Perhubungan NTT melalui UPTD Wilayah II dapat mengatur dan mengelola pemanfaatan terminal secara lebih optimal—bagi masyarakat, bagi operator angkutan, dan bagi pelaku usaha kecil.
╔══════════════════════════════════════╗
“Kami ingin Lolowa menjadi wajah transportasi
yang tertib, bersih, dan manusiawi.
Tempat orang berangkat dengan harapan
dan pulang dengan selamat.”
╚══════════════════════════════════════╝
Di bawah langit Atambua yang biru, perbincangan tentang revitalisasi terasa seperti percakapan tentang masa depan. Terminal bukan lagi sekadar infrastruktur. Ia adalah ruang sosial, ruang ekonomi, ruang perjumpaan.
Dan ketika Ketua Komisi IV DPRD NTT melangkah meninjau sudut-sudut terminal, yang terlihat bukan hanya bangunan fisik—melainkan peluang untuk menyulam kembali fungsi Lolowa sebagai gerbang perbatasan yang bermartabat.
Sebab di kota paling timur Indonesia itu, setiap keberangkatan adalah cerita. Dan setiap terminal, jika dikelola dengan hati, bisa menjadi rumah bagi harapan yang tak pernah berhenti berjalan.















