Di Teluk Gurita, pada tanah yang menatap langsung samudra dan perbatasan, politik memilih diam—dan menanam.
ATAMBUA |BELUPOS.Com—
Pagi di Teluk Gurita tidak ribut oleh pidato. Angin laut berembus pelan, menyentuh lereng Taman Wisata Rohani Patung Bunda Maria. Di sanalah, satu per satu, lubang tanah dibuka. Bukan untuk pondasi kekuasaan, melainkan untuk akar harapan.
Sebanyak 79 anakan bunga sakura ditanam. Bukan sekadar angka. Ia adalah usia. Ia adalah doa. Ia adalah cara sunyi DPC PDI Perjuangan Kabupaten Belu merayakan ulang tahun ke-79 Prof. Dr. (H.C) Hj. Megawati Soekarnoputri—seorang perempuan yang sejarah Indonesia kenal bukan hanya lewat jabatan, tetapi keteguhan.
Aksi ini diberi nama “Merawat Pertiwi.” Nama yang terasa lebih sebagai panggilan nurani ketimbang agenda partai.
Ketika Ulang Tahun Dirayakan dengan Menumbuhkan
Ketua DPC PDI Perjuangan Belu, Theodorus Feby Djuang, berdiri tak jauh dari bibit-bibit muda itu. Tangannya kotor oleh tanah. Wajahnya tenang.
“Kami menanam 79 pohon sakura sebagai kado ulang tahun untuk Ibu Megawati,”
katanya, sederhana.
Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan makna panjang. Sakura dipilih bukan karena bunga semata, melainkan simbol tentang keindahan yang lahir dari kesabaran, tentang waktu, dan tentang kehidupan yang mesti dirawat agar mekar.
“Ini bukan sekadar agenda rutin. Ini implementasi sikap politik kami terhadap alam,”
— Theodorus Feby Djuang
Di perbatasan RI–RDTL, tempat negara sering hadir lewat garis peta, PDI Perjuangan memilih hadir lewat akar yang menembus tanah.
Doa dari Beranda Terdepan
Dari Belu, dari wilayah yang menjadi beranda terluar republik, para kader menitipkan doa: agar Presiden ke-5 RI itu senantiasa diberi kesehatan dan umur panjang.
Tak ada baliho. Tak ada panggung besar. Hanya tanah, bibit, dan kesadaran bahwa politik sejati kadang bekerja dalam diam.
“Kami ingin merawat bumi dari titik batas negara,”
ujar Febby,
“dan ini akan kami lakukan terus-menerus.”
Kalimat itu menggantung lama di udara Teluk Gurita—seperti janji yang tidak ingin cepat ditepati, melainkan terus dijaga.
Partai, Alam, dan Tanggung Jawab Moral
Di balik layar kegiatan, Brigitha Hati, Wakil Ketua Bidang Lingkungan Hidup DPC PDI Perjuangan Belu, memastikan semuanya berjalan rapi. Baginya, penghijauan bukan tren, melainkan tanggung jawab moral.
“Partai politik tidak boleh abai terhadap keseimbangan alam,”
— Brigitha Hati
Ia berbicara tentang masa depan. Tentang ketahanan pangan. Tentang rencana menanam porang sebagai tanaman pendamping beras—sebuah cara berpikir jangka panjang, ketika politik tidak hanya berhenti di pemilu, tetapi berlanjut di ladang dan hutan.
Sakura, Solidaritas, dan Jaringan Sunyi
Kegiatan ini juga menjadi penanda solidaritas antarkader. DPC PDI Perjuangan Timor Tengah Selatan (TTS) turut ambil bagian dengan menyumbangkan 79 anakan sakura.
Di situ, sakura bukan lagi bunga asing dari negeri jauh. Ia menjadi bahasa persaudaraan, ditanam di tanah perbatasan, dirawat oleh tangan-tangan lokal, dan ditujukan untuk masa depan bersama.
Ketika Politik Memilih Menanam
Pada akhirnya, Teluk Gurita menyimpan cerita kecil yang kelak akan tumbuh tinggi. Ketika sakura itu mekar—entah tahun berapa—orang mungkin lupa siapa yang menanamnya.
Namun tanah akan ingat.
Sebab politik yang paling jujur
adalah yang meninggalkan kehidupan,
bukan jejak langkah.
Dan pagi itu, di Belu, politik memilih menanam.















