Berita UtamaHukum & KriminalKesehatanLensa PerbatasanPariwisataPendidikanPolitikwarta Kota

Runtuhnya Rumah Tangga di Era Digital: Ketika Pendidikan Karakter Kalah oleh Layar

4
×

Runtuhnya Rumah Tangga di Era Digital: Ketika Pendidikan Karakter Kalah oleh Layar

Sebarkan artikel ini

Penulis: Oktaf Maria Klau, S.Fil.
Pengamat Kehidupan Sosial

Ada kecenderungan yang semakin lazim dalam kehidupan keluarga modern: ketika rumah tangga mulai retak, telepon genggam segera dituduh sebagai biang keladinya.

Pesan WhatsApp dianggap sebagai awal petaka. Media sosial dicurigai sebagai pintu masuk perselingkuhan. Layar yang menyala di tangan pasangan dipandang lebih mencurigakan daripada wajah yang perlahan kehilangan kehangatan.

Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya tidak boleh disederhanakan: benarkah telepon genggam yang menghancurkan rumah tangga?

Atau justru kita sedang mencari kambing hitam yang paling mudah, karena terlalu berat mengakui bahwa persoalan sesungguhnya berada di dalam diri manusia?

Di sinilah persoalan rumah tangga di era digital harus dibaca bukan semata-mata sebagai persoalan teknologi, melainkan sebagai persoalan pendidikan manusia.

Sebab teknologi tidak pernah memiliki kehendak untuk mengkhianati pasangan. Telepon genggam tidak pernah mempunyai niat untuk merebut perhatian seorang suami dari istrinya. WhatsApp tidak pernah memaksa seseorang membalas pesan orang lain secara diam-diam. Media sosial tidak pernah memerintahkan manusia mengabaikan keluarganya.

Semua itu kembali kepada manusia.

Jika sebuah telepon genggam dapat berbicara ketika dituduh sebagai penyebab keretakan rumah tangga, barangkali pembelaannya sangat sederhana:

“Aku hanyalah alat. Aku tidak mempunyai akal budi, hati, kehendak bebas, maupun niat. Engkaulah yang memegangku, bukan aku yang memegangmu.”

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, justru di situlah persoalan pendidikan kita berada.

Ketika Teknologi Berkembang, Tetapi Pengendalian Diri Tertinggal

Kemajuan teknologi berkembang jauh lebih cepat daripada kematangan manusia dalam menggunakannya.

Anak-anak mengenal gawai sejak usia dini. Remaja tumbuh bersama media sosial. Orang dewasa mengandalkan komunikasi digital hampir dalam seluruh aspek kehidupan. Namun, apakah kemampuan menggunakan teknologi selalu berjalan seiring dengan kemampuan mengendalikan diri?

Belum tentu.

Kita mengajarkan anak bagaimana menggunakan perangkat digital, tetapi tidak selalu mengajarkan bagaimana menolak godaan di dalamnya.

Kita mengajarkan cara berkomunikasi melalui media sosial, tetapi belum tentu mengajarkan etika ketika berkomunikasi dengan orang lain.

Kita mengajarkan literasi digital, tetapi terkadang lupa bahwa literasi digital tanpa pendidikan karakter dapat menghasilkan manusia yang mahir menggunakan teknologi, tetapi miskin pengendalian diri.

Di sinilah pendidikan seharusnya mengambil peran lebih besar.

Pendidikan tidak boleh berhenti pada kemampuan membaca informasi, mengoperasikan perangkat, atau membedakan berita benar dan palsu. Pendidikan harus membentuk manusia yang mampu membedakan mana yang boleh dilakukan dan mana yang seharusnya tidak dilakukan, sekalipun tidak ada orang lain yang melihat.

Sebab kesetiaan tidak diuji ketika semua orang sedang melihat.

Kesetiaan justru diuji ketika seseorang mempunyai kesempatan untuk berkhianat tanpa diketahui.

Bukan Ponselnya yang Menjauhkan, tetapi Manusia yang Memilih Menjauh

Ungkapan bahwa teknologi mampu “mendekatkan yang jauh, tetapi menjauhkan yang dekat” memang memiliki daya refleksi yang kuat.

Namun, kita perlu berhati-hati agar ungkapan tersebut tidak berubah menjadi pembenaran untuk menyalahkan teknologi.

Yang menjauhkan suami dari istrinya bukan layar telepon genggam.

Yang membuat seorang istri merasa tidak didengar bukan aplikasi percakapan.

Yang membuat anak merasa kehilangan perhatian orang tua bukan semata-mata keberadaan internet.

Manusialah yang memilih ke mana perhatiannya diberikan.

Seseorang dapat duduk satu meja dengan keluarganya, tetapi pikirannya berada di tempat lain.

Ia hadir secara fisik, tetapi absen secara emosional.

Matanya berada di ruang makan, tetapi perhatiannya berada di layar.

Tangannya menggenggam telepon, sementara tangan pasangan yang berada di sampingnya perlahan kehilangan tempat untuk digenggam.

Inilah ironi kehidupan digital: kita memiliki semakin banyak sarana komunikasi, tetapi belum tentu memiliki semakin banyak percakapan yang bermakna.

Kita dapat mengirim ratusan pesan dalam sehari, tetapi belum tentu mampu mengatakan kepada pasangan sendiri, “Apa yang sebenarnya sedang kamu rasakan?”

Pendidikan Keluarga Tidak Boleh Kalah oleh Pendidikan Digital

Keluarga adalah sekolah pertama bagi manusia.

Sebelum seorang anak mengenal guru di ruang kelas, ia mengenal ayah dan ibunya di rumah. Sebelum ia belajar tentang sopan santun dari buku pelajaran, ia menyaksikan bagaimana orang tuanya memperlakukan satu sama lain.

Karena itu, pendidikan tentang penggunaan teknologi tidak boleh hanya dibebankan kepada sekolah.

Rumah harus menjadi tempat pertama bagi pendidikan digital yang berkarakter.

Anak perlu melihat bahwa ayah mampu meletakkan telepon ketika ibu sedang berbicara.

Anak perlu melihat bahwa ibu mampu menghentikan percakapan digital ketika keluarga sedang berkumpul.

Anak perlu menyaksikan bahwa komunikasi langsung tetap mempunyai nilai yang tidak dapat digantikan oleh pesan singkat.

Sebab anak tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan orang tua.

Anak belajar terutama dari apa yang dilakukan orang tua.

Jika orang tua mengatakan, “Jangan terlalu sering bermain telepon,” tetapi sepanjang malam dirinya sendiri tidak pernah melepaskan gawai, maka pendidikan kehilangan keteladanannya.

Di sinilah pendidikan karakter menemukan maknanya yang paling konkret: keteladanan.

Persoalannya Bukan pada Gawai, tetapi pada Batas

Teknologi pada dasarnya adalah alat.

Ia dapat digunakan untuk bekerja, belajar, berkomunikasi, mencari pengetahuan, membangun usaha, mempererat keluarga, bahkan menyelamatkan hubungan yang terpisah oleh jarak.

Namun alat yang sama dapat digunakan untuk sesuatu yang merusak kepercayaan.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan perang melawan teknologi, melainkan pendidikan tentang batas.

Batas antara komunikasi dan kedekatan emosional.

Batas antara pertemanan dan hubungan yang melampaui kepatutan.

Batas antara privasi dan kerahasiaan.

Batas antara kebutuhan menggunakan gawai dan kecanduan terhadapnya.

Batas antara kebebasan pribadi dan tanggung jawab terhadap pasangan.

Manusia yang dewasa bukanlah manusia yang tidak memiliki kesempatan untuk berbuat salah.

Manusia yang dewasa adalah manusia yang mampu berkata “cukup” ketika sesuatu mulai melampaui batas.

Rumah Tangga Membutuhkan Literasi Hati

Kita terlalu sering berbicara tentang literasi digital, tetapi jarang berbicara tentang literasi hati.

Padahal, keduanya harus berjalan bersama.

Literasi digital mengajarkan manusia bagaimana menggunakan teknologi.

Literasi hati mengajarkan manusia bagaimana menggunakan kebebasan secara bertanggung jawab.

Yang pertama membuat manusia cakap.

Yang kedua membuat manusia berkarakter.

Tanpa karakter, kecakapan digital dapat menjadi pedang bermata dua.

Seseorang dapat mengetahui cara menyembunyikan percakapan, menghapus jejak komunikasi, membuat akun lain, atau membangun identitas digital yang berbeda. Tetapi pertanyaan moralnya tetap sama:

Apakah semua yang mampu dilakukan manusia layak dilakukan?

Di sinilah pendidikan harus berani masuk lebih dalam.

Pendidikan tidak cukup menghasilkan manusia yang pintar.

Pendidikan harus menghasilkan manusia yang mampu mempertanggungjawabkan kepintarannya.

Jangan Mendidik Anak untuk Takut pada Teknologi

Kita tidak perlu mengajarkan generasi muda untuk takut kepada teknologi.

Yang harus diajarkan adalah bagaimana menguasai teknologi tanpa diperbudak olehnya.

Telepon genggam harus tetap berada di tangan manusia, bukan sebaliknya.

Media sosial harus menjadi sarana, bukan tuan.

Pesan digital harus menjadi alat komunikasi, bukan pengganti seluruh bentuk kehadiran manusia.

Dan keluarga harus tetap menjadi ruang pertama tempat manusia belajar tentang kasih, kesetiaan, tanggung jawab, penghormatan, serta pengendalian diri.

Sebab apabila pendidikan karakter kalah dari algoritma, maka persoalannya bukan lagi sekadar tentang telepon genggam.

Kita sedang berbicara tentang masa depan manusia.

Jangan Salahkan Layar, Periksa Diri Sendiri

Pada akhirnya, keretakan rumah tangga tidak dapat dijelaskan hanya dengan menunjuk sebuah benda di atas meja.

Pertanyaan yang lebih penting justru harus diarahkan kepada diri sendiri.

Apakah saya masih menyediakan waktu untuk pasangan?

Apakah saya masih mampu mendengar tanpa sibuk memeriksa layar?

Apakah saya menjaga batas ketika berkomunikasi dengan orang lain?

Apakah saya menggunakan teknologi untuk memperkuat keluarga atau justru untuk melarikan diri dari persoalan keluarga?

Dan yang paling penting:

Apakah saya masih menjadi pasangan yang ingin saya dapatkan dari orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu jauh lebih penting daripada sekadar bertanya siapa yang harus disalahkan.

Sebab rumah tangga tidak runtuh hanya karena sebuah telepon genggam.

Rumah tangga mulai retak ketika perhatian kehilangan arah, ketika komunikasi kehilangan kejujuran, ketika batas kehilangan makna, dan ketika manusia berhenti mendidik dirinya sendiri untuk setia.

Teknologi tidak memiliki hati.

Manusialah yang memilikinya.

Karena itu, jangan menghukum benda mati atas kesalahan manusia.

Didiklah manusia agar mampu menggunakan teknologi dengan akal budi, etika, kasih, dan tanggung jawab.

Sebab pada akhirnya, yang menentukan kokoh atau rapuhnya sebuah rumah tangga bukanlah seberapa canggih teknologi yang berada di tangan, melainkan seberapa dewasa manusia yang menggenggamnya.

Dan di situlah pendidikan menemukan tugasnya yang paling mendasar: bukan sekadar membuat manusia semakin pintar menggunakan dunia, tetapi membuat manusia semakin mampu menguasai dirinya sendiri.

Penulis: Oktaf .M.KlauEditor: Agustinus Bobe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *